Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

2008/12/10

Kumpulan Jurnal Farmakologi Dasar

UNTUK MENDOWNLOAD KUMPULAN JURNAL INI DALAM PDF dan SATU EBOOK DIDALAMNYA SILAHKAN KLIK DISINI

coba nih
NB : Nanti setelah di klik akan masuk ke adf.ly == biarkan waktu berjalan== skip ad == hotfile.

CARA-CARA PENANGANAN/ PERLAKUAN, PENANDAAN HEWAN PERCOBAAN DAN RUTE PEMBERIAN OBAT
I. Pendahuluan
Peranan hewan percobaan dalam kegiatan penelitian ilmiah telah berjalan sejak puluhan tahun yang lalu. Sebagai pola kebijaksanaan pembangunan nasional bahkan internasional, dalam rangka keselamatan umat manusia di dunia adalah adanya Deklarasi Helsinki. Deklarasi ini berisi tentang segi etik percobaan yang menggunakan manusia (1964) antara lain dikatakan perlunya diakukan percobaan pada hewan, sebelum percobaan di bidang biomedis maupun riset lainnya dilakukan atau diperlakukan terhadap manusia, sehingga dengan demikian jelas hewan percobaan mempunyai mission di dalam keikutsertaannya menunjang program keselamatan umat manusia melalui suatu penelitian biomedis.
Selain itu berdasarkan deklarasi tersebut, cukup beralasan pula bila penelitian lain misalnya tentang aspek fisiologis, patologis, dan penyakit pada manusia, nutrisi, virus, penelitian perilaku dan sebagainya, dapat dilakukan pada hewan percobaan sebagai modelnya dengan segala persyaratan tertentu.
Berdasarkan referensi data yang diperoleh dari National Institute of Health Primate Research centers, 1978, syarat utama dalam pemilihan hewan percobaan yang sesuai dan dapat dipakai sebagai model adalah bahwa proses yang terjadi pada hewan percobaan tersebut mirip atau banyak kesamaannya dengan proses yang terjadi pada manusia. Di samping itu mudah didapat , mudah dikembang-biakkan dan relatip murah harganya. Secara terperinci peranan hewan percobaan berorientasi kepada kegiatan penelitian maupun pemeriksaan laboratorium.
(Edhie sulaksono, 1992)

Obat masuk ke dalam tubuh dengan cara intravaskular atau ekstravaskular. Cara intravaskular yaitu obat langsung masuk ke sirkulasi sistemik dan didistribusikan ke seluruh tubuh seperti pemberian intravena (suntikan atau infus). Berarti pemberian obat tidak perlu menglami fase pertama untuk memberikan efek, yaitu fase absorpsi. Konsentrasi obat dalam plasma atau darah selanjutnya ditentukan oleh kecepatan biotransformasi dan kecepatan ekskresi atau eliminasi obat dari tubuh. Sedangkan cara ekstravaskular yaitu obat harus diabsorpsi dahulu sebelum masuk ke peredaran sistemik seperti pemberian intramuskular, subkutan, intradermal, dan peritoneal. Syarat untuk absorpsi adalah obat harus terbebaskan terlebih dahulu dari bentuk sediannya dan bukan hanya tergantung pada faktor fisikokimia obat, tetapi juga pada faktor lingkungan bagian tubuh tempat obat diserap atau diabsorpsi. Kemudian, faktor-faktor teknik pembuatan (farmakoteknik) merupakan penentu untuk pembebasan obat dari bentuk sediaannya ke dalam cairan tubuh.
(Stefanus Lukas, 2006)

II. Tujuan Percobaan
- Untuk mengetahui bagaimana cara-cara menangani/ memperlakukan hewan percobaan,
- Untuk mengetahui bagaimana cara memberi penandaan pada hewan percobaan,
- Untuk melihat berbagai pengaruh rute pemberian obat terhadap efek yang ditimbulkan,
- Untuk menyatakan onset of action obat berdasarkan rute pemberian,
- Untuk mengetahui efek dari Luminal Na terhadap hewan percobaan

III. Prinsip Percobaan
- Cara memegang hewan percoabaan adalah berbeda-beda. Hal ini ditentukan oleh sifat hewan tersebut, keadaan fisiknya (besar atau kecil), serta tujuannya. Kesalahan dalam prosedurnya akan menyebabkan kecelakaan atau rasa sakit pada hewan, sehingga menyulitkan dalam penyuntikan.
- Dengan membandingkan berbagai rute pemberian obat (oral dan intraperitoneal ), sehingga dapat diperoleh onset of action, intensitas, dan duration of action dari suatu obat. Onset of action pada pemberian intraperitonial akan lebih cepat dicapai dibandingkan dengan melalui oral.

IV. Tinjauan Pustaka
Keanekaragaman jenis hayati (hewan percobaan) yang dimiliki ataupun yang dipakai sebagai Animal model oleh suatu laboratorium medis baik itu dibidang farmasi, phisiologi, ekologi, mikrobiologi, virologi, radiobiologi, kanker, biologi dan sebagainya di negara manapun merupakan suatu "modal dasar" dan "model hidup" yang mutlak dalam berbagai kegiatan penelitian (riset). Secara definitip hewan percobaan adalah yang digunakan sebagai alat penilai atau merupakan "model hidup"dalam suatu kegiatan penelitian atau pemeriksaan laboratorium baik medis maupun non medis secara in vivo.
Di dalam hal keikutsertaan dan pemanfaatannya bagi pengembangan sains dan teknologi, kebutuhan akan sumber hayati ini (hewan percobaan) makin hari makin meningkat terutama untuk kepentingan riset biomedis maupun pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan secara nasional negara kita adalah salah satu negara pensuplai kebutuhan tersebut (misalnya kera). Dipihak lain belum banyak usaha yang terpadu & programatis dalam penanganan hewan percobaan baik dalam kwalitas maupun kwantitas, kecuali pada pihak yang benar-benar mengerti dan sadar akan kepentingan ini.
Pengelolaan Hewan Percobaan
Pada dasamya pengelolaan hewan percobaan dititikberatkan pada:
1.Kondisi bangunan
Persyaratan ini sangat menentukan kondisi hewan percobaan, karena bentuk,ukuran serta bahan yang dipakai merupakan elemen dalam physical environment bagi hewan percobaan. Bangunan harus dirancang sedemikian rupa sehingga hewan dapat hidup dengan tenang, tidak terlalu lembab, dapat menghasilkan peredaran udara yang baik, suhu cocok, ventilasi lengkap dengan insect proof screen (kawat nyamuk).
2.Sanitasi
Dari bangunan tersebut diambil manfaatnya dengan dapat terselenggaranya sistem sanitasi yang baik, sestim drainase yang baik, tersedianya fasilitas desinfektan, misalnya dengan jalan menempatkan tempat khusus yang berisi desinfektan (lysol 3­5%) atau disebut dengan Foot baths. Sanitasi kandang atau peralatan lainnya dilakukan dengan teratur. Di samping itu bagi tenaga pengelola perlu mengenakan lab jas (Protective clothing) atau peralatan proteksi lainnya seperti masker dan sebagainya. Peralatan sanitasi lainnya seperti halnya autoclave pembakar bangkai, fumigator bahkan fasilitas shower dan toilet bila perlu diusahakan ada.
3. Tersedianya makanan
Tersedianya makanan hewan percobaan yang nitritiv dan dalam jumlah yang cukup. Penyimpanannya harus baik, terhindar dari lingkungan yang lembab, diusahakan bebas dari insekta atau hewan penggerek lainnya, karena dengan adanya ini dapat merupakan petunjuk adanya kerusakan bahan makanan hewan dan sebagai usaha pencegahannya adalah makanan ditempatkan dalam kantong-kantong plastik yang waterproof, bila perlu dalam kondisi anaerob (dengan menggunakan vaccum pump) dan tertutup rapat. Bentuk makanan bila perlu diusahakan berbentuk pellet (cetakan seperti pil atau berbentuk silinder) dengan diameter tertentu tergantung macam hewannya. Keuntungannya adalah dapat disimpan lama (lebih-lebih bila anaerob), makanan bisa habis termakan (dibandingkan bila dalam bentuk mess atau powder) serta kontrol terhadap makanan yang dimakan lebih mudah.
4. Kebutuhan air
Kebutuhan air dapat diperoleh dengan mudah dan lancar dan usahakan tidak terlalu tinggi kandungan mineralnya serta bersih.
5. Sirkulasi udara
Dengan adanya sistim ventilasi yang baik, sirkulasi udara dapat diatur lebih-lebih bila dipasang exhaust fan.
6. Penerangan
Penerangan diperlukan sekali terutama dalam pengaturan proses reproduksi hewan Haruster, karena siklus estrus (siklus reproduksinya) sangat tergantung oleh penerangan dan bila tidak terdapat penerangan akan menyebabkan terhambatnya proses reproduksi.
7. Kelembaban dan temperatur ruangan
Adapun kelembaban dan temperatur ruangan yang direkomendasikan bagi masing-masing hewan percobaan adalah sebagai berikut:
8. Keamanan
Maksud dari pada keamanan ini adalah menjaga jangan sampai terjadi infeksi penyakit baik yang berasal dari hewan maupun manusia. Sehingga sebagai usaha pencegahan tidak diperkenankan semua orang keluar masuk ruangan hewan (lebih-lebih bila hewannya adalah bebas kuman atau yang disebut dengan Germ Free Animals tanpa
suatu keperluan apapun.
9. Training/kursus bagi personil
Dalam program pemeliharaan hewan percobaan diperlukan tenaga yang terlatih dan berpengalaman yang cukup, karena ilmu yang menyangkut hewan percobaan dapat melibatkan banyak aspek ilmu, sehingga diperlukan sekali adanya kursus baik tenaga administrasi maupun tenaga teknis.
(http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16_PerkembangbiakanHewanPercobaan.pdf/16_PerkembangbiakanHewanPercobaan.html)

Cara Pemberian Obat (Rote of Drug Administration)
Cara pemberian obat adalah satu-satunya pengetahuan asli milik farmakologi. Perbedaan cara pemberian sangat penting dalam penentuan efek yang diharapkan. Ada obat yang hanya berkhasiat apabila disuntikkan dan tidak memberikan efek bila diminum. Karena itu cara pemberian obat ditentukan oleh :
Jenis obat
Kondisi penderita (sadar, tidak sadar, koperatif, dan sebagainya)
kondisi penyakit (perlu efek segera atau tidak).
Aplikasi Lokal
Efek lokal diperoleh dengan membubuhkan obat pada kulit atau mukosa, dan dalam beberapa hal dengan penyuntikan di daerah atau rongga tertentu. Obat yang larut dalam air tidak diserap oleh kulit utuh. Obat yang dilarutkan dalam minyak dapat diserap oleh kulit, dan bila penyerapan cukup besar, akan terjadi efek sistemik bahkan keracunan. Kulit yang tidak utuh memperbesar penyerapan dan perlu mendapat perhatian.
Pada umumnya, obat mudah diserap dari mukosa mata, hidung, tenggorokan, bawah lidah, rektum, saluran pernafasan dan saluran kemih kelamin. Karena itu perlu disadari, bahwa pemberian lokal dapat menimbulkan efek sistemik sampai keracunan.
Pemberian sistemik
Pemberian obat melalui mulut disebut per oral atau per os merupakan cara pemberian yang paling banyak dilakukan. Keuntungan cara per os adalah murah, mudah, enak dan menyenangkan serta paling aman karena lebih mudah ditolong. Pertolongan yang diberikan ketika keracuanan akut timbul adalah dengan merangsang muntah, bilas lambung, pemberian penawar dan pemberian pencahar untuk mengurangi penyerapan. Pertolongan demikian dapat dilakuka, karenaa penyerapan obat per os memerlukan waktu yang relative lama. Kerugiannya adalah tidak mungkin diberikan jika penderita tidak sadar, muntah-muntah, sebagian obat memberikan rasa mual dan nyeri lambung atau dirusak oleh asam lambung. Selain itu, isi lambung juga mempengaruhi keteraturan atau kecepatan penyerapan obat. Adakalanya cara per oral juga digunakan pada obat yang berefek lokal pada saluran cerna seperti laksan (pencahar), digestan, antacid non-sistemik dan sebagainya.
(Mulkam Y.L., Rizali H.N., 1993)

Cara Pemberian Obat Parenteral
Cara pemberian obat prenteral adalah sebagai berikut :
1. Subkutan atau di bawah kulit (s.c.), yaitu disuntikkan ke dalam tubuh melalui bagian yang sedikit lemaknya dan masuk ke dalam jaringan di bawah kulit; volume yang diberikan tidak lebih dari 1 ml. Sediaan harus memenuhi krtiteria tertentu, seperti berikut : Larutan sebaiknya isotonis dan iso hidris; Larutan yang sangat menyimpang isotonisnya dapat menimbulkan rasa nyeri atau nekrosis dan absorpsi zat aktif tidak optimal; Onset of action obat berupa larutan dalam air lebih cepat daripada sediaan suspensi; Determinan kecepatan absorbsi ialah total luas permukaan tempat terjadinya penyerapan; Absorpsi obat dapat diperlambat dengan menambahkan adrenalin ( cukup 1 :100.000-200.000) yang menyebabkan konstriksi pembuluh darah lokal, sehingga difusi obat tertahan diperlambat. Contoh injeksi Lidocaine Adrenalin untuk cabut gigi. Sebaliknya, absorpsi obat dapat dipercepat dengan penambahan hyluronidase, yaitu suatu enzim yang memecah mukopolisakarida dari matriks jaringan yang menyebabkan penyebaran dipecepat. Bila ada infeksi, maka bahaya lebih besar daripada penyuntikan ke dalam pembuluh darah karena pada pemberian subkutan mikroba menetap di jaringan dan membentuk abses.
2. intramuskular (i.m.), yaitu disuntikkan ke dalam jaringan otot, umumnya di otot pantat atau paha. Syarat-sayrat yang harus dipenuhi sediaan adalah sebagai berikut : Sediaan dalam bentuk larutan lebih cepat diabsorpsi daripada suspensi pembawa minyak atau air; Larutan sebaiknya isotonis; Onset bervariasi tergantung besar kecilnya partikel; Sediaan dapat berupa larutan, emulsi atau suspensi; Zat aktif bekerja lambat (preparat devo) serta mudah terakumulasi, sehingga dapat menimbulkan keracunan; Volume sediaan umumnya 2 ml sampai 20 ml dapat disuntikkan ke dalam otot dada, sedangkan volume yang lebih kecil disuntikkan ke dalam otot-otot lain. Contohnya adalah penicillin G 3.000.000 unit, injeksi antitetanus 10.000 atau 20.000 unit, injeksi vitamin B kompleks.
3. Intravena (i.v.), yaitu disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Syaratnya adalah sebagai berikut : Larutan dalam volume kecil (dibawah 5 ml) sebaiknya isotonis dan isohidris, sedangkan volume besar (infuse) harus isotonis dan isohidris; Tidak ada fase absorpsi, Obat langsung masuk ke dalam vena; Onset of action segera; Obat bekerja paling efisien; Bioavaibilitas 100%; Obat harus dalam larutan air, bila emulsi lemak partikel minyak tidak boleh lebih besar dari ukuran partikel eritrosit; Sedian suspensi tidak dianjurkan; Larutan hipertonis disuntikkan secara lambat, sehingga sel-sel darah tidak banyak berpengaruh; Zat aktif tidak boleh merangsang pembuluh darah, sehingga menyebabkan hemolisa seperti saponin, nitrit, dan nitrobenzol; Sediaan yang diberikan umumnya sediaan sejati; Adanya partikel dapat menyebabkan emboli; Pada pemberian dengan volume 10 ml atau lebih, sekali suntik harus bebas pirogen. Contohnya, injeksi ampicilin 500 mg, 1 gram, infuse Sodium chloride 0,9 % 25 ml, 50 ml, 500 ml.



4. Cara pemberian Parenteral lainnya :
a. Intraspinal, yaitu disntukkan ke dalam sumsum tulang belakang. Syaratnya : larutan harus isotonis dan isohidris, bila digunakan sebagai anestesi larutan harus hipertonis. Contoh sediaannya yaitu injeksi Xylocain heavy 0,5% 2 ml (Buvicaine HCl).
b. Peritonial, yaitu kateter dimasukkan ke dalm rongga perut dengan operasi untuk tempat memasukkan cairan steril CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialisis). Syaratnya yaitu : larutan harus hipertonis; zat aktif harus diabsorpsi dengan cepat; volume diberikan dalam jumlah besar (1 atau 2 liter); Infeksi mudah terjadi karena pemakaian yang terus menerus dan penanganan yang tidak steril; Biasa sebagai cuci darah dengan cara CAPD. Contohh sediaannya infuse dianeal 1,5% atau 2,5% 2 liter.
c. Intraartikular, yaitu disuntikkan ke dalam sendi. Syaratnya yaitu larutan harus isotonis dan isohidris. Contoh sediaan injeksi Kenacort A 10 mg/ml amp 5 ml.
d. Intradermal, yaitu disuntikkan ke dalam kulit. Syarat-syarat sediaan ini yaitu : Larutan sebaiknya isotonis dan isohidris; Volume yang disuntikkan kecil, antara 0,1 hingga 0,2 ml; Biasa sebagai diagnostik Mantoux tes atau tes alergi. Contohnya yaitu tes alergi antibiotik 1 ml, injeksi Kenacort A 10 mg/ml amp 5 ml.
(Stefanus Lukas, 2006)

Hubungan Struktur, Sifat Kimia Fisika dengan Proses Penyerapan Obat
Cara pemberian obat melalui oral (mulut), sublingual (bawah lidah), rektal (dubur) dan parenteral terteral tertentu, seperti melalui intradermal, intramuskular, subkutan dan intraperitonial, melibatkan proses penyerapan obat yang berbeda-beda. Pemberian secara parenteral yang lain, seperti melalui intravena, intraarteri, intraspinal dan intraserebral, tidak melibatkan proses penyerapan, obat langsung masuk ke peredaran darah dan kemudian menuju sisi reseptor (receptor cite). Cara pemberian yang lain adalah secara inhalasi melalui hidung dan secara setempat melalui kulit atau mata.
Proses penyerapan merupakan dasar penting dalam menentukan aktivitas farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan obat selama proses penyerapan akan mempengaruhi aktivitas obat dan menyebabkan kegagalan pengobatan.
1. Penyerapan Obat Melalui Saluran Cerna
Pada pemberian secara oral, sebelum obat masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh, terlebih dahulu mengalami proses penyerapan pada saluran cerna. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses penyerapan obat pada saluran cerna antara lain adalah bentuk sediaan, sifat kimia fisika, cara pemberian, faktor biologis dan faktor lain-lain.
a. Bentuk sediaan
Bentuk sediaan terutama berpengaruh terhadap kecepatan penyerapan obat, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi intensitas respon biologis obat. Bentuk sediaan pil, tablet, kapsul, emulsi, serbuk, dan larutan, proses penyerapannya memerlukan waktu yang berbeda-beda dan jumlah ketersediaan hayatinya mungkin juga belainan. Ukuran partikel bentuk sediaan juga mempengaruhi penyerapan obat. Makin kecil ukuran partikel, luas permukaan yang bersinggungan dengan pelarut makin besar, sehingga kecepatan melarut obat makin besar. Adanya bahan-bahan tambahan atau bahan pembantu, seperti bahan pengisi, pelican, penghancur, pembasah dan emulgator, dapat mempengaruhi waktu hancur dan melarut obat, yang akhirnya berpengaruh terhadap kecepatan penyerapan obat.
b. Sifat Kimia Fisika Obat
Bentuk asam, basa, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat mempengaruhi kelarutan dan proses penyerapan obat. Selain itu bentuk kristal atau polimorf, kelarutan dalam lemak/ air dan derajad ionisasi juga mempengaruhi proses penyerapan obat. Contoh : Penisilin V dalam bentuk garam K lebih mudah melarut dibanding penisilin V bentuk basa, Novobiosin bentuk amorf lebih cepat melarut disbanding bentuk kristal.
c. Faktor Biologis
Faktor-faktor biologis yang berpengaruh terhadap proses penyerapan obat antara lain adalah variasi keasaman (pH) saluran cerna, sekresi cairan lambung, gerakan saluran cerna, luas permukaan saluran cerna, waktu pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus, serta banyaknya buluh darah pada tempat penyerapan.
d. Faktor Lain-Lain
Faktor lain-lain yang berpengaruh terhadap proses penyerapan obat antara lain adalah umur, diet (makanan), adanya interaksi obat dengan senyawa lain dan adanya penyakit tertentu.
(Siswandono, 1995)

Absorosi, Distribusi dan Ekskresi Obat
Kebanyakan obat diberikan secara oral, sehingga obat harus lewat melalui dinding usus untuk dapat memasuki aliran darah. Proses absorpsi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi biasanya sebanding dengan kelarutan obat di dalam lemak. Sehingga, absorpsi obat yang tak terionkan adalah disangga karena obat adalah jauh lebih mudah larut dalam lipid daripada yang terionkan (BH+) dan dikelilingi oleh kulit molekul air. Obat yang diabsorpsi sebagian besar pada usus halus karena permukaannya luas. Ini terjadi untuk obat yang bersifat asam lemah (misalnya aspirin), yang tidak terionkan dalam HCl pada lambung. Obat diabsorpsi dari saluran pencernaan memasuki gerbang sirkulasi dan secara ekstensif ada yang dimetabolisme karena melewati hati (melewati metabolisme pertama).
Obat-obat yang cukup larut di dalam lemak siap diabsorpsi secara oral dan dengan cepat didistribusikan seluruhnya oleh air kompartmen badan. Banyak obat yang bebas berikatan dengan albumin plasma, dan bentuk kesetimbangan diantara ikatan protein dan obat bebas dalam plasma. Obat yang berikatan dengan protein plasma yang terkurung dalam system vaskular dan tidak dapat menimbulkan efek farmakologi.
Distribusi didalam tubuh terjadi ketika jangkauan obat di dalam tubuh. Kemudian menembus jaringan untuk memberkan aksi.
Waktu paruh (t1/2), adalah waktu yang dibutuhkan obat untuk mencapai konsentrasi separuh dari konsentrasi awalnya. Ekskresi renal akhirnya bertanggung jawab untuk eliminasi obat paling banyak. Obat ada yang terdapat dalam filtrate glumerulus, namun obat yang larut dalm lipid akan dibsorpsi kembali pada tubulus renal secara difusi pasif.
(Michael J. Neal, 2002)

Penggolongan Obat Berdasarkan Khasiat dan Penggunaanya dapat dibagi :
Adstringen, Adsorben, Analeptik, Analgetik-antipiretik, analgetik-narkotik, Anestetik, Hipnotif-sedatif dan lain-lain.
Sedative hipnotif merupakan Obat yang digunakan agar dapat tidur. Bila diberikan dalam dosis yang lebih rendah pada siang hari untuk menenangkan, maka dinamakan sedativ (pereda).
a. Tidur tenang (slow-wave, NREM), cirinya denyut jantung, tekanan darah dan pernafasan teratur, otot kendor tanpa gerakan otot muka atau mata.
b. Tidur REM atau paradoksal (Rapid-eye-movement), disini otak memperlihatkan aktivitas listrik sama dalam keadaan bangun dan aktif disertai gerakan mata yang cepat. Jantung, tekanan darah dan pernafasan turun naik, aliran darah keotak bertambah, penis mengeras, terjadi mimpi. Tidur normal adalah : 6-8 jam dimulai tidur tenang selama 1 jam. Contoh obat-obatnya yaitu barbitalum, Methaqualonum, pentobarbitalum, phenobarbitalum, dan nitrazepamum.
Turunan barbiturat merupakan sedative yang banyak digunakan secara luas sebelum ditemukannya turuna Benzodiazepim. Turunan barbiturat bekerja sebagai penekan pada aksis serebrospinal dan menekan aktifitas saraf, otot rangka, otot polos dan otot jantung. Turunan barbiturat dapat menghasilkan derajat depresi yang berbeda yaitu sedasi, hipnotik atau anastesi, tergantung pada struktur senyawa/ dosis dan cara pemberian.
Turunan barbiturat bekerja menekan transmisi sinoptik pada sistem pengaktivan retikula diotak dengan cara mengubah permeabilitas membrane sel sehingga mengurangi rangsang sel postsinapsis dan menyebabkan deaktivasi kortex cerebial.
Berdasarkan masa kerjanya turunan barbiturat dibagi dalam 4 kelompok :
a. Turunan barbiturat dengan kerja panjang (6 jam atau lebih)
Contoh : Barbital, mefobarbital, metabarbital
b. Turunan barbiturat dengan masa kerja sedang (3-6 jam)
Contoh : Siklobarbital, heptabarbital, heksetal, Phenobarbital dan sekobarbital (sekonal).
c. Turunan barbiturat dengan masa kerja sangat pendek (kurang dari 0,5 jam).
Contoh : Tiopental, tiamital.
Fenobarbital Na (Nembutal)
Fenobarbital Na adalah turunan barbiturate dengan masa kerja pendek, digunakan sebgai hipnotik dan sedative diberikan secara oral atau intravena. Kadar dalam darah tertinggi obat dicapai dalam satu jam setelah pemberian obat dengan waktu paruh plasma 15-48 jam.
(Widodo, 1993)
Pemberian obat secara oral dapat dilakukan melalui mulut dan langsung ditelan oleh klien, obat diletakkan dibawah lidah (sublingual) atau diletakkan dipipi bagian dalam (buccal) serta ditunggu sampai obat tersebut larut. Pemberian obat secara oral juga dapat dilakukan melalui selang nasogastrik (NGT).
Pemberian obat melalui oral atau mulut memang merupakan cara termudah dan paling sederhana. Cara tersebut meminimalkan ketidaknyamanan pada klien dan dengan efek samping yang paling kecil, serta paling murah dibandingkan dengan cara pemberian yang lain.
Bila klien dilakukan gastricsuction atau terpasang NGT dengan tujuan bilas lambung, pemberian obat per oral dihentikan dan diberikan dengan cara yang lain. Namun, beberapa dokter kadang tetap menginstruksikan pemberian obat melalui NGT dengan menghentikan sementara proses bilas lambung, caranya adalah dengan menutup selang NGT minimal selama 30 menit setelah diberikan obat melalui NGT.
Pemberian obat melalui parenteral berarti pemberian obat melalui injeksi atau infuse. Dapat diberikan secara intradermal (ID), subkutaneus (SC), intramuscular (IM) / jaringan intralesional, intravena (IV) / sirkulasi intra-arterial, intraspinal atau melalui ruang intra-artikular.(www.unsoed.ac.id)

Obat merupakan kumpulan zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup setiap manusia yang mengkonsumsinya dan akan melewati mekanisme kerja dari mulai bagaimana obat itu diabsorpsi, didistribusikan, mengalami biotransformasi dan akhirnya harus ada yang diekskresikan.

Absorpsi Obat Dalam Tubuh
Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses. Pada klinik pemberian obat yang terpenting harus mencapai bioavaibilitas yang menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik.
Hal ini penting, karena terdapat beberapa jenis obat tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik, namun akan dimetabolisme oleh enzim didinding usus pada pemberian oral atau dihati pada lintasan pertamanya melalui organ- organ tersebut.
Adapun faktor- faktor yang dapat mempengaruhi bioavaibilitas obat pada pemberian oral, antara lain :
Faktor Obat
Sifat- sifat fisikokimia seperti stabilitas pH lambung, stabilitas terhadap enzim
pencernaan serta stabilitas terhadap flora usus, dan bagaimana formulasi obat
seperti keadaan fisik obat baik ukuran partikel maupun bentuk kristsl/ bubuk dll.
Faktor Penderita
Bagaimana pH saluran cerna, fungsi empedu, kecepatan pengosongan lambung
dari mulai motilitas usus, adanya sisa makanan, bentuk tubuh, aktivitas fisik
sampai dengan stress yang dialami pasien.
Interaksi dalam absorpsi di saluran cerna
Adanya makanan, perubahan pH saluran cerna, perubahan motilitas saluran cerna, perubahan perfusi saluran cerna atau adanya gangguan pada fungsi normal mukosa usus.(nardinurses.files.wordpress.com)


V. Metode Percobaan
5.1. Alat dan Bahan

5.1.1. Alat
- oral sonde mencit
- spidol permanent
- spuit 1 ml
- stopwatch
- alat suntik 1 ml
- beaker glass 25 ml
- erlenmeyer 10 ml

5.1.2. Bahan
- mencit 5 ekor
- aquadest
- luminal Na 0,7%

5.2. Prosedur Percobaan
Penandaan Hewan
- dipegang ujung ekor mencit dengan tangan kanan dan dibiarkan kaki depan berpaut pada kawat kasa kandang
- ditandai ekor mencit dengan spidol permanent
- diletakkan di atas timbangan elektrik, kemudian catat beratnya
Persiapan Hewan
- dipegang ujung ekor dengan tangan kanan dan dibiarkan kaki depan terpaut pada kawat kasa kandang
- dipegang kulit kepala sejajar dengan telinga mencit dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri
- ditukarkan pegangan ekor dari tangan ke jari kelingking kiri supaya mencit itu dapat dipegang dengan sempurna
- mencit siap untuk disuntik
Cara Pemberian Obat
Intraperitoneal
Percobaan kontrol (dengan pemberian aquadest)
- dipegang tengkuk mencit sedemikian rupa dengan tangan kiri sehingga ibu jari melingkar di bawah rahang sehingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala
- disuntikkan aquadest pada bagian bawah tengah abdomen dengan cepat
- diamati efek yang terjadi
Pemberian Luminal Na 0,7%
- dipegang tengkuk mencit sedemikian rupa dengan tangan kiri sehingga ibu jari melingkar di bawah rahang sehingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala
- disuntikkan Luminal Na 0,7% pada bagian bawah tengah abdomen perlahan-lahan
- diamati efek obat yang terjadi
Peroral
Pemberian Luminal Na 0,7%
- dipegang tengkuk mencit
- diselipkan jarum oral yang telah berisi Luminal Na 0,7% berdekatan dengan langit-langit dan didorong hingga masuk ke esofagus
- Larutan didesak keluar dari alat suntik








5.3 . Flow Sheet
Mencit 1. Penandaan Hewan


Dipegang ujung ekor dengan tangan kanan dan dibiarkan kaki depan berpaut pada kawat kasa dari kandang
Ditandai ekornya dengan spidol permanent
Diangkat ke atas timbangan elektrik
Dicatat beratnya
Hasil


2. Persiapan Hewan
Mencit

Dipegang ujung ekor dengan tangan kanan dan dibiarkan kaki depan berpaut pada kawat kasa di kandang
Dipegang kulit kepala sejajar dengan telinga mencit dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri
Ditukarkan pegangan ekor dari tangan kanan ke jari kelingkng kiri supaya mencit dapat dipegang dengan sempurna
Hasil



3. Cara Pemberian Obat
a. Per Oral

Mencit
Ditandai dan ditimbang mencit
Dihitung dosis, dimasukkan obat ke oral sonde
Dipegang tengkuk mencit
Diselipkan jarum oral yang telah berisi obat berdekatan dengan langit-langit dan dorong hingga masuk ke esofagus
Didesak larutan obat keluar dari alat suntik
Diamati respon selama 90 menit dengan selang waktu 10 menit
Dibuat grafik respon vs waktu
Hasil
b. Intra Peritoneal
Mencit
Ditandai dan ditimbang mencit
Dihitung dosis, dimasukkan obat ke spuit
Dipegang tengkuk mencit sedemikian rupa dengan tangan kiri sehingga ibu jari melingkar di bawah rahang (bukan tenggorokan) sehingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala
Disuntikkan larutan obat pada bagian bawah tengah abdomen dengan cepat
Diamati respon selama 90 menit dengan selang waktu 10 menit
Dibuat grafik respon vs waktu
Hasil
VI. Perhitungan, Data, Grafik Percobaan dan Pembhasan
6.1. Perhitungan Dosis
Mencit I
berat badan = 22,7 g

Mencit II (intraperitonial)
berat badan = 20,7 g
dosis Luminal Na = 80 mg/kgBB
konsentrasi = 0,7%
Mencit III (intraperitonial)
berat badan = 19,0 g
dosis Luminal Na = 90 mg/kgBB
konsentrasi = 0,7%


Mencit IV
berat badan = 20,6 g
dosis Luminal Na = 80 mg/kgBB (Intraperitoneal)
konsentrasi = 0,7%
Mencit V (oral)
berat badan = 20,8 g
dosis Luminal Na = 90 mg/kgBB
konsentrasi = 0,7%







6.2. Data Percobaan
No.
PERLAKUAN
WAKTU (MENIT)
10
20
30
40
50
60
70
80
90
1.
Kontrol aquadest 1%, intraperitonial
1.1
1.1
1.1
1.1
1.1
1.1
1.1
1.1
1.1
2.
Luminal Na [] 0,7%, dosis 80 mg/kgBB, Intraperitonial
1.2
1.3
1.3
1.3
1.3
1.3
1.3
1.3
1.3
3.
Luminal Na [] 0,7%, dosis 90 mg/kgBB, Intraperitonial
1.1
1.1
1.1
1.1
1.1
1.1
1.3
1.2
1.2
4.
Luminal Na [] 0,7%, dosis 80 mg/kgBB, oral
1.2
1.1
1.1
1.1
1.1
1.2
1.2
1.3
1.4
5.
Luminal Na [] 0,7%, dosis 90 mg/kgBB, oral
1.1
1.1
1.1
1.1
1.1
1.2
1.3
1.3
1.3

Keterangan :
- 1.1 : Normal
- 1.2 : Reaktif
- 1.3 : Gerak Lambat
- 1.4 : Tidur




6.3. Grafik Percobaan





























6.4. Pembahasan
Pada hasil percobaan, yaitu pada mencit II dengan dosis 80 mg/kgBB dan mencit III dengan dosis 90 mg/kgBB, didapatkan bahwa efek yang lebih dahulu timbul terdapat pada mencit yang diberi dosis lebih kecil. Hal ini mungkin terdapatnya variasi biologis pada tiap individu.
Akibat faktor individual itu, efek obat dapat sangat berbeda. Setiap orang dapat memberikan respons yang berlainan terhadap suatu obat sesuai kepekaannya masing-masing. Perbedaan respons ini bisa besar sekali, karena untuk setiap obat selalu ada orang yang rentan dan dengan dosis rendah sekali sudah dapat memberikan efek terapeutis. Sebaliknya, ada pula orang yang hanya memberikan efek dalam dosis yang amat tinggi. Inilah sebabnya mengapa dosis obat yang diberikan pada suatu pasien dengan hasil baik, adakalanya tidak ampuh pada pasien lain, yang mungkin dosisnya harus dinaikkan untuk memberikan efek yang sama. Dalam keadaan penting hendaknya pasien diukur kadar obat dalam darahnya untuk mendapatkan kepastian mengenai takaran yang optimal.
( Tjay, 2003)














VII. Kesimpulan dan Saran

7.1. Kesimpulan
- Cara-cara penanganan hewan percobaan meliputi penandaan, persiapan dan penyuntikan hewan percobaan tersebut.
- Dalam praktikum ini penandaan hewan percobaan dilakukan dengan menandai ekor mencit dengan spidol permanent.
- Pada umumnya pemberian Phenobarbital secara intraperitonial pada mencit memberikan efek yang lebih cepat dibandingkan dengan pemberaian oral.
- Onset of action lebih cepat dicapai pada pemberian intraperitonial dibandingkan dengan pemberian oral.
- Phenobarbital memberikan efek yang bervariasi pada mencit mulai dari normal, reaktif, gerak lambat dan bahkan tidur.

7.2. Saran
- Hendaknya dilakukan percobaan pada rute pemberian yang lain, misalnya intravena.
- Hendaknya praktikan hati-hati dalam menjaga mencit percobaan karena harganya mahal.











Daftar Pustaka

Lukas, Stefanus, (2006), FORMULASI STERIL, Penerbit Andi: Yogyakarta, Hal :11-14
Neal, Michael J., (2002), MEDICAL PHARMACOLOGY AT A GLANCE, Fourth Edition, Blackwell Science Ltd: Malden USA, Hal : 12, 13.
Siswandono, (1995), KIMIA MEDISINAL, Air Langga University Press: Surabaya, Hal :10-11.
Widodo, V. B & Lotterer E., (1993), KUMPULAN DATA KLINIK FARMAKOLOGI. Cetakan I. UGM Press: Jogjakarta, Hal 10
Yahya L, Mulkan & Rizali H., (1993), PENGANTAR FARMAKOLOGI, Pustaka Widyasarana: Medan Hal 6
nardinurses.files.wordpress.com
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16_PerkembangbiakanHewanPercobaan.pdf/16_ PerkembangbiakanHewanPercobaan.html
www.unsoed.ac.id


PENGARUH VARIASI BIOLOGI TERHADAP DOSIS OBAT DAN PENGARUH JENIS KELAMIN TERHADAP DOSIS OBAT

I. Pendahuluan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Metabolisme Obat
Metabolisme obat secara normal melibatkan lebih dari satu proses kimiawi dan enzimatik sehingga menghasilkan lebih dari satu metabolit. Jumlah metabolit ditentukan oleh kadar dan aktivitas enzim yang berperan pada proses metabolisme. Kecepatan metabolisme dapat menentukan intensitas dan memperpanjang kerja obat. Kecepatan metabolisme ini kemungkinan berbeda-beda pada masing-masing individu. Penurunan kecepatan metabolisme akan meningkatkan intensitas dan memperpanjang masa kerja obat, dan kemungkinan meningkatkan toksisitas obat. Kenaikan kecepatan metabolisme akan menurunkan intensitas dan memperpendek masa kerja obat sehingga obat menjadi tidak efektif pada dosis normal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme obat antara lain faktor genetik atau keturunan, perbedaan spesies dan galur, pebedaan jenis kelamin, perbedaan umur, penghambatan enzim metabolisme, induksi enzim metabolisme dan faktor-faktor lain.
(Siswandono, 1995)

II. Tujuan Percobaan

1. Untuk mengetahui pengaruh variasi biologi terhadap dosis obat yang diberikan kepada hewan percobaan .
2. Untuk mengetahui pengaruh variasi jenis kelamin terhadap dosis obat yang diberikan kepada hewan percobaan.

III. Prinsip Percobaan
Dosis yang diperlukan untuk mencapai kadar terapeutik efektif berbeda-beda pada tiap-tiap individu disebabkan karena adanya variasi biologi dan variasi jenis kelamin yang mempengaruhi respons tubuh terhadap obat.

IV. Tinjauan Pustaka
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Metabolisme Obat
Metabolisme obat secara normal melibatkan lebih dari satu proses kimiawi dan enzimatik sehingga menghasilkan lebih dari satu metabolit. Jumlah metaboloit ditentukan oleh kadar dan aktivutas enzim yang berperan pada proses metabolisme. Kecepatan metabolisme dapat menentukan intensitas dan memeperpanjang kerja obat. Kecepatan metabolisme ini kemungkinan berbeda-beda pada masing-masing individu. Penurunan kecepatan metabolisme akan meningkatkan intensitas dan memperpanjang masa kerja obat, dan kemungkinan meningkatkan toksisitas obat. Kenaikan kecepatan metabolisme akan menurunkan intensitas dan memperpendek masa kerja obat sehingga obat menjadi tidak efektif pada dosis normal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme obat antara lain faktor genetik atau keturunan, perbedaan spesies dan galur, pebedaan jenis kelamin, perbedaan umur, penghambatan enzim metabolisme, induksi enzim metabolisme dan faktor-faktor lain.
Faktor Genetik atau Keturunan
Perbedaan individu pada proses metabolisme sejumlah obat kadang-kadang terjadi dalam kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik atau keturunan ikut berperan terhadap adanya perbedaan kecepatan metabolisme obat.
Contoh : Metabolisme isoniazid, suatu bentuk antituberkulosis, terutama melalui n-asetilasi. Studi terhadap kecepatan asetilasi isoniazid menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan asetilasi dari individu-individu. Orang Jepang dan Eskimo merupakan asetilator cepat, sedang orang Eropa Timur dan Mesir adalah asetilator lambat. Waktu paruh isoniazid pada asetilator cepat bervariasi antara 45-80 menit, dan pada asetilator lambat antara 140-200 menit.
Reaksi asetilasi melibatkan perpindahan gugus asetil dan dikatalisis oleh enzim N-asetil transferase. Asetilator cepat mempunyai enzim N-asetil transferase yang jauh lebih besar dibanding asetilator lambat. Aktifitas antituberkulosis isoniazid sangat tergantung pada kecepatan asetilasinya. Pada asetilator cepat, isoniazid cepat diekskresikan dalam bentuk asetilisoniazid yang tidak aktif, sehingga obat mempunyai masa kerja pendek dan memerlukan dosis pengobatan yang lebih besar. Pada asetilator lambat, kemungkinan terjadinya efek samping yang tidak dikehendaki lebih besar, misalnya neuritis perifer. Hidralazin, Prokainamid dan Dapson juga menunjukkan asetilasi yang berbeda secara genetik. Factor genetik juga berpengaruh ternadap kecepatan oksidasi dari fenitoin, fenilbutazon, dan nortriptilin.

Perbedaan Spesies dan Galur
Pada proses metabolisme obat, perubahan kimia yang terjadi pada spesies dan galur kemungkinan sama atau sedikit berbeda, tetapi kadang-kadang perbedaan yang cukup besar pada reaksi metabolismenya. Pengamatan pengaruh perbedaan spesies dan galur terhadap metabolisme obat sudah banyak dilakukan, yaitu pada tipe reaksi metabolik atau pebedaan kualitatif dan pada kecepatan metabolisme atau perbedaan kuantitatif. Contoh : Fenilasetat, pada manusia terkonjugasi dengan glisin dan glutamine, sedang pada kelinci dan tikus terkonjugasi pada glisin saja. Asam benzoate, pada bebek diekskresikan sebagai asam orniturat, sedangkan pada anjing diekskresikan sebagai asam hipurat. Amfetamin, pada manusia, kelinci dan marmot mengalami deaminasi oksidatif, sedangkan pada tikus mengalami hidroksilasi aromatik. Fenol, pada kucing terkonjugasi dengan sulfat, sedangkan pada babi terkonjugasi dengan asam glukuronat, karena kucing mengandung lebih sedikit enzim glukuronil transferase. Fenitoin, pada manusia mengalami oksidasi aromatik menghasilkan S(-)-orto-hidroksifenitoin.
Perbedaan Jenis Kelamin
Pada beberapa spesies binatang menunjukkan ada pengaruh jenis kelamin terhadap kecepatan metabolisme obat. Banyak obat dimetabolisis dengan kecepatan yang sama baik pada tikus betina maupun tikus jantan. Tikus betina dewasa ternyata memetabolisis beberapa obat dengan kecepatan yang lebih rendah dibanding tikus jantan. Contoh : N-demetilasi aminopirin, oksidasi heksobarbital, dan glukuronidasi O-aminofenol. Hal ini menunjukkan bahwa selain perbedaan jenis kelamin, metabolisme juga tergantung pada macam substrat.
Studi efek hormon androgen, seperti testosteron, pada sistem mikrosom hati menunjukkan bahwa rangsangan enzim oksidasi pada tikus jantan ternyata berhubungan dengan aktivitas anabolik dan tidak berhubungan dengan efek androgenik. Pada manusia baru sedikit yang diketehui tentang adanya pengaruh perbedaan jenis kelamin terhadap proses metabolisme obat. Contoh : nikotin dan asetosal dimetabolisis secara berbeda pada pria dan wanita.
Perbedaan Umur
Bayi dalam kandungan dan bayi baru lahir jumlah enzim-enzim mikrosom hati yang diperlukan untuk memetabolisis obat relatif masih sedikit sehingga peka terhadap obat. Contoh pengaruh umur terhadap metabolisme obat : Heksobarbital, bila diberikan pada tikus yang baru lahir dengan dosis 10 mg/kg berat badan, menyebabkan tikus tertidur selama 6 jam, sedang pada pemberian dengan dosis yang sama pada tikus dewasa hanya menyebabkan tertidur kurang dari lima menit. Tolbutamid, pada bayi yang baru lahir mempunyai waktu paruh enam jam, sedang pada orang dewasa delapan jam. Hal ini disebabkan kemampuan bayi untuk metabolisme oksidatif masih rendah. Kloramfenikol, pemberian pada bayi yang baru lahir dapat menimbulkan sindrom bayi kelabu. Hal ini disebabkan bayi mengandung enzim glukuronil transferase dalam jumlah yang relatif sedikit, sehingga kemampuan memetabolisis kloramfenikol rendah, akibatnya terjadi penumpukan obat pada jaringan dan menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Bayi yang baru lahir mengandung enzim glukuronil transferase dalam jumlah yang relative sedikit. Pemberian turunan salisilat, kloramfenikol, dan klorpromazin dapat menimbulkan neonatal hyperbilirubinemia (kern ichterus). Hal ini disebabkan terjadi kompetisi pada proses konjugasi antara bilirubin, suatu senyawa endogen hasil pemecahan hemoglobin dengan obat-obat di atas, sehingga bilirubin yang tak termetabolisis terkumpul pada jaringan dan menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
Penghambatan enzim Metabolisme
Kadang-kadang, pemberian terlebih dahulu atau secara bersam-sama suatu senyawa yang menghambat kerja enzim-enzim metabolisme dapat meningkatkan intensitas efek obat, memperpanjang masa kerja obat dan kemungkinan juga meningkatkan efek samping dan toksisitas. Contoh : Dikumarol, kloramfenikol, sulfonamida,dan fenilbutazon, dapat menghambat enzim-enzim yang memetabolisis tolbutamid dan klorpropamid, sehingga menyebabkan kenaikan respon glikemi. Dikumarol, kloramfenikol, dan isonizid, dapat menghambat enzim metabolisme dari fenitoin, sulfonamida, sikloserin, dan para-amino salisilat, sehingga kadar obat dalam serum darah meningkat dan meningkat pula toksisitasnya. Fenilbutazon, secara stereoselektif dapat menghambat metabolisme (S)-warfarin, sehingga meningkatkan aktivitas antikoagulannya (hipoprotrombonemi). Bila luka, terjadi perdarahan yang hebat.
Induksi enzim metabolisme
Kadang-kadang pemberian terlebih dahulu atau secara bersama-sama suatu senyawa obat dapat meningkatkan aktivitas atau jumlah enzim metabolisme dan bukan karena perubahan permeabilitas mikrosom atau oleh adanya reaksi penghambatan. Peningkatan aktivitas enzim metabolisme obat-obat tertentu atau prases induksi enzim mempercepat proses metabolisme dan menurunkan kadar obat bebas dalam plasma, sehingga efek farmakologis obat menurun dan masa kerjanya menjadi lebih singkat. Contoh : Fenobarbital, dapat menginduksi enzim mikrosom sehingga meningkatkan metabolisme warfarin dan menurunkan efek antikoagulannya. Oleh karena itu, penderita yang diobati dengan warfarin dan akan diberi fenobarbital, maka dosis warfarin harus disesuaikan (diperbesar). Rokok mengandung polisiklik aromatik hidrokarbon, seperti benzo(a)piren, yang dapat menginduksi enzim mikrosom, yaitu sitokrom P-450, sehingga meningkatkan oksidasi dari beberapa obat seperti teofilin, fenasetin, pentazosin, dan profoksifen. Contoh : waktu paruh teofilin pada perokok = 4,1 jam, sedang pada orang yang tidak merokok = 7,2 jam. Fenobarbital, dapat meningkatkan metabolisme griseofulvin, kumarin, fenitoin, hidrokortison, testosteron, bilirubin, asetaminofen, dan obat kontrasepsi oral. Fenitoin, dapat meningkatkan kecepatan metabolisme kortisol, nortriptilin, dan obat kontrasepsi oral. Fenilbutazon, dapat meningkatkan metabolisme aminopirin dan kortisol. Induksi enzim juga mempengaruhi toksisitas beberapa obat karena dapat meningkatkan metabolisme dan pembentukan metabolit reaktif. Contoh induksi enzim sitokrom P-450 oleh fenobarbital akan meningkatkan oksidasi asetaminofen, sehingga pembentukan metabolit reaktif imidokuinon meningkat dan efek hepatotoksisitasnya menjadi lebih besar.

Faktor Lain-Lain
Faktor lain-lain yang dapat mempengaruhi metabolisme obat adalah diet makanan, keadaan kekurangan gizi, gangguan keseimbangan hormon, kehamilan, pengikatan obat oleh protein plasma, distribusi obat dalam jaringan, dan keadaan patologis hati, misal kanker hati.
(Siswandono, 1995)
Variasi dalam Kemampuan Merespons Obat
Individu-individu mungkin sangat berbeda dalam kemampuan mereka merespons suatu obat. Sesungguhnya, respons seorang individu mungkin bebeda untuk suatu obat. Sesungguhnya, respon seorang individu mungkin bebeda untuk suatu obat yang sama diberikan pada saat yang berbeda selama masa pengobatan. Kadang-kadang, individu menunjukkan respons obat yang tidak umum atau respons idiosinkratik obat, suatu hal yang jarang tampak dari sebagian besar pasien. Respon-respon idiosinkratik biasanya disebabkan oleh perbedaan genetik dalam metabolisme obat atau oleh mekanisme imunologik, termasuk reaksi-reaksi alergik.
Variasi kuantitatif dalam respons obat biasanya lebih umum dan lebih penting secara klinik: seorang pasien secara individual adalah hiporeaktif atau hiperaktif terhadap suatu obat dalam hal intensitas efek dari dosis obat yang diberikan akan menurun atau meningkat bila dibandingkan dengan efek yang tampak pada mayoritas individu-individu. Kemampuan merespons biasanya menurun sebagai akibat dari pemberian obat yang terus menerus, sehingga menmbulkan suatu keadaan toleran yang relative pada efek-efek obat.
Ada empat mekanisme umum yang mungkin menyokong terjadinya perbedaan terhadap kemampuan merespons obat diantara pasien-pasien atau dalam ondividu seorang pasien pada waktu yang berbeda.
A. Perubahan dalam Konsentrasi Obat yang Mencapai Reseptor
Dengan mengubah konsentrasi obat yang mencapai reseptor-reseptor yang relevan, perbedaan-perbedaan farmakokinetika yang demikian kemungkinan mengubah respons klinik. Perbedaan-perbedaan tertentu dapat diprediksi berdasrkan umur, berat badan, jenis kelamin, keadaan penyakit, fungsi hati dan ginjal, dan dengan melakukan pemeriksaan khusus untuk mencari perbedaan-perbedaan genetik yang mungkin berasal dari perwarisan komplemen tersendiri yang fungsional dari enzim yang memetabolisme obat.
B. Variasi dalam Konsentrasi suatu Ligan Reseptor Endogen
Mekanisme ini sangat menyokong variabilitas terhadap respons-respons terhadap antagonis-antagonis farmakologik.
C. Perubahan dalam Jumlah Atau Fungsi Reseptor-Reseptor
Kajian-kajian eksperimental telah mendokumentasikan perubahan-perubahan dalam kemampuan memberi respons obat yang disebabkan oleh peningkatan atau penurunan jumlah situs reseptor atau oleh perubahan-perubahan efisiensi mekanisme hubungan reseptor-reseptor dengan efektor distal. Dalam beberapa hal, perubahan jumlah reseptor disebabkan oleh hormon-hormon lain.
Suatu antagonis mungkin meningkatkan jumlah reseptor-reseptor di dalam suatu sel atau jaringan yang kritis dengan mencegah down regulation yang disebabkan oleh agonis endogen. Ketika antagonis tersebut ditarik, jumlah reseptor yang meningkat dapat menimbulkan respon yang berlebih-lebihan pada konsentrasi-konsentrasi agonis yang fisiologis. Dalam situasi ini jumlah reseptor yang diturunkan oleh drug-induced down regulation, adalah terlalu rendah bagi agonis endogen untuk menimbulkan stimulasi efek.
D. Perubahan-Perubahn dalam Komponen-Komponen Respons Distal dari Reseptor
Meskipun suatu obat memulai kerjanya dengan terikat pada reseptor-reseptor, respon yang tampak pada seorang pasien bergantung pada integritas fungsional proses-proses biokimia di dalam sel yang merespons dan meregulasi secara fisiologis dengan berinteraksi dengan sistem-sistem organ.
(Bertram G. Katzung,2001)
Faktor-faktor lain
Interaksi obat
Perubahan respons penderita akibat interaksi obat.
Toleransi
Toleransi adalah penurunan efek farmakologik akibat pemberian berulang. Berdasarkna mekanismenya ada 2 jenis toleransi, yakni toleransi farmakokinetik dan toleransi farmakodinamik. Toleransi farmakokinetik biasanya terjadi karena obat meningkatkan metabolismenya sendiri (obat merupakan self inducer), misalnya barbiturat dan ripamfisin. Toleransi farmakodinamik atau toleransi selular terjadi karena proses adaptasi sel atau reseptor terhadap obat yang terus menerus berada di lingkungannya. Dalam hal ini jumlah obat yang mencapai reseptor tidak berkurang tetapi karena sensitivitas reseptornya berkurang maka responsnya berkurang. Toleransi ini dapat terjadi terhadap barbiturat, opiat, benzodiazepin, amfetamin dan nitrat organik.
Takifilaksis adalah toleransi farmakodinamik yang terjadi secara akut. Ini terjadi pada pemberian amin simpatomimetik yang kerjanya tidak langsung (misalnya efedrin) akibat deplesi neurotransmitor dari gelembung sinaps.
Bioavailabilitas
Perbedaan bioavailabilitas antar preparat dari obat yang sama (bioinekivalensi) yang cukup besar dapat menimbulkan respons terapi yang berbeda (inekivalensi terapi). Untuk obat dengan batas-batas keamanan yang sempit, dan obat untuk penyakit yang berbahaya (life-saving drugs), perbedaan bioavalabilitas antara 10-20% sudah cukup untuk menimbulkan inekivalensi terapi. Contoh obat yang seringkali menimbulkan masalah dalam bioavailabilitasnya adalah : digoksin, fenitoin, dikumarol, tolbutamid, eritromisin, amfoterisin B, dan nitrofurantoin.
Pengaruh lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respons penderita terhadap obat antara lain kebiasaan (merokok, minum alkohol) dan keadaan sosial budaya (makanan, pekerjaan, tempat tinggal). Hidrokarbon polisiklik yang terdapat dalam asap rokok meninduksi sintesis enzim metabolisme obat-obat tertentu (misalnya teofilin) sehingga mempercepat biotransformasi obat-obat tersebut dan dengan demikian mengurangi respons penderita.
( Tanu, 2007;hal 828-829 )
Plasebo
Plasebo adalah sebuah bentuk dosis tanpa sesuatu tanpa bahan aktif, yaitu sebuah pengobatan tiruan. Administrasi dari plasebo mungkin menimbulkan efek yang diinginkan (gambaran gejala suatu penyakit) atau efek yang tidak diinginkan yang mencerminkan perubahan pada situasi psikologis pasien karena pengaturan terapi.
Dokter harus secara sadar maupun tidak sadar berkomunikasi kepada pasien apakah itu terkait atau tidak dengan masalah pasien tersebut, atau hal tertentu tentang diagnosis dan tentang nilai terapi yang ditentukan. Dalam penyembuhan seorang dokter yang merawat haruslah seorang yang ramah, kompeten, dapat dan dipercaya sehingga pasien merasa nyaman dan lebih semangat sehingga mengoptimalkan proses penyembuhan.
Kondisi fisik menentukan disposisi fisik dan demikian sebaliknya. Kondisi genting seperti pejuang perang yang terluka, terlupa pada luka-luka mereka ketika berlangsungnya pertempuran, hanya untuk penglaman sakit parah pada keselamatan di rumah sakit, atau pasien dengan borok, yang disebabkan oleh tekanan emosi (stress) (Hinz Lullmann, 2000).

Kadar terapeutik obat dapat dicapai lebih cepat dengan memberikan dosis muatan yang diikuti dengan dosis rumatan. Dosis muatan adalah dosis awal oabat yang lebih tinggi dari dosis-dosis selanjutnya dengan tujuan mencapai kadar oabat terapeutik dalam serum dengan cepat.
Dosis muatan diikuti dengan dosis rumatan, yang merupakan dosis obat yang mempertahankan konsentrasi plasma dalam keadaan stabil pada rentang terapeutik.
Regimen dosis adalah cara, jumlah, dan frekuensi pemberian obat yang mempengaruhi onset of action dan duration of action kerja obat. Onset of action adalah jumlah waktu yang diperlukan oleh suatu obat untuk mulai bekerja. Obat-obatan yang diberikan secara intravena secara umum mempunyai onset of action yang lebih cepat dibanding obat-obat yang diberikan per oral karena obat-obatan harus diabsorpsi dan melalui usus sebelum masuk ke aliran darah. Durasi adalah lamanya waktu suatu obat bersifat terapeutik (James Olson, M.D., 1993)
Pemberian obat untuk mengobati flu dan batuk pada anak-anak di bawah umur 2 tahun sebaiknya dihindari karena berisiko. INI merupakan peringatan terkini yang dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Food and Drug Administration/FDA) Amerika Serikat.FDA mengingatkan agar menghindari pemberian obat antibatuk dan flu pada anak-anak yang usianya di bawah dua tahun. Pasalnya, pemberian obat tersebut terhadap anak-anak di bawah dua tahun dinilai sangat berisiko. FDA mengindikasikan pemberian obat bisa mengakibatkan risiko fatal,mulai jantung berdebar-debar, kejang-kejang, hingga pada risiko kematian. ''Kami mengeluarkan peringatan keras agar menghindari pemberian obat antibatuk dan flu terhadap anak-anak di bawah dua tahun. Sebab, pemberian obat mengakibatkan risiko serius dan berpotensi mengancam keselamatan anak-anak serta menimbulkan efek yang tak disangkasangka," jelas Ketua FDA Dr Charles Ganley kepada Reuters. Ganley menegaskan bahwa obat-obat tersebut ''tidak aman dan tidak efektif bagi anak-anak di bawah dua tahun". Sebab, obat-obatan tersebut hanya menghilangkan gejala-gejala batuk dan flu pada anak, tapi tidak menyembuhkan penyakitnya. Obat antibatuk dan flu selama beberapa dekade ini sudah banyak dijual bebas di pasar.Namun,FDA tak merekomendasikan perusahaan obat-obatan untuk mencegah pemberian terhadap anakanak. Sejauh ini, belum diperoleh data konkret soal penggunaan obat-obatan itu kepada anak-anak. ''Metabolisme dan reaksi tubuh anak-anak terhadap obat-obatan berbeda dengan orang dewasa. Jadi, sebaiknya kita mengantisipasinya sebelum menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan," demikian keterangan resmi American Academy of Pediatrics, untuk mendukung peringatan FDA. Sejauh ini, FDA tak pernah menyarankan untuk memberikan berbagai obat-obatan pada anakanak di bawah dua tahun.Tahun lalu, FDA melarang pemberian berbagai jenis obat-obatan kepada anak-anak di bawah dua tahun jika tak ada rekomendasi secara detail dari dokter. Peringatan keras FDA ini menimbulkan kontroversi yang hebat di masyarakat AS. Perusahaan obat-obatan di negeri Paman Sam pun memprotes larangan tersebut. Apalagi FDA pada Oktober 2007 sempat menarik 14 jenis obat bagi anak-anak dari pasaran. Perusahaan obat-obatan menyatakan produk yang dijual ke masyarakat aman bagi anak-anak di bawah dua tahun. Asalkan penggunaannya sesuai petunjuk yang disarankan, misalnya takaran dosis yang tepat, dengan menggunakan ukuran sendok makan. Selain itu, orangtua disarankan memeriksa daftar zat yang terkandung dalam obat tersebut agar tak memberikan lebih dari satu jenis obat kepada anaknya. Sebab, dalam beberapa kasus sering ditemukan anak-anak mengalami overdosis atau salah obat karena orangtuanya tak mengetahui jenis zat yang terkandung di dalam obat tersebut. Meski sudah memberikan peringatan keras terhadap pemberian dua jenis obat tersebut pada anak di bawah dua tahun,FDA masih mengevaluasi rencana penetapan pelarangan pemberian obat antibatuk dan flu terhadap anak-anak berusia dua hingga 11 tahun.
Jika sama-sama menimbulkan efek negatif, pelarangan itu akan disahkan pada musim panas tahun ini. ''Sebab,berdasarkan hasil penelitian lanjutan, obat antibatuk dan flu juga tak efektif pada anak-anak di bawah enam tahun. Bahkan, berisiko menimbulkan risiko yang serius bagi kesehatan mereka," tutur American Academy of Pediatrics dalam pernyataan tertulisnya. Namun, sikap FDA yang masih memberikan toleransi pemberian obat antibatuk dan flu terhadap anak-anak yang berusia di bawah enam tahun ini dikritik Presiden National Research Center for Women & Families Diana Zuckerman. Padahal, berdasarkan penelitian,para ilmuwan sudah jelas mengatakan bahwa efek negatif yang ditimbulkan sama berbahaya.
(http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=4915.0)
Banyak obat-obatan ternyata tidak direkomendasikan bagi anak-anak. Kini Uni Eropa menetapkan kewajiban ujicoba susulan terhadap obat-obatan yang juga dapat dikonsumsi anak-anak. Anak-anak sangat rentan terhadap serangan penyakit.
Di Eropa yang tergolong ketat aturan kesehatan dan pengawasan obat-obatannya, banyak yang terkejut ketika membaca petunjuk di kemasan obat. Sebagian besar obat-obatan yang dijual bebas maupun yang harus dengan resep dokter, ternyata mencantumkan peringatan yang dicetak dengan huruf kecil : "tidak disarankan penggunaannya bagi anak-anak, karena belum dilakukan penelitian". Banyak obat-obatan yang bahkan tidak diizinkan untuk anak-anak. Karena itulah, mulai Januari tahun 2007 ini Uni Eropa menetapkan peraturan obat-obatan yang lebih ketat lagi. Semua perusahaan farmasi diwajibkan mengujicoba obat yang dipasarkannya juga menyangkut dampaknya untuk anak-anak.
Berdasarkan aturan baru Uni Eropa, semua vaksin untuk imunisasi, harus diujicoba pada anak-anak, sebelum diizinkan dipasarkan. Tapi, jika berbicara mengenai obat-obatan untuk bayi yang dilahirkan prematur, atau yang harus dirawat secara intensiv dan anak-anak penderita kanker, situasinya amat jauh berbeda. Lebih dari 90 persen obat-obatan yang digunakan, sebetulnya tidak boleh diberikan kepada anak-anak. Masalahnya, mengujicoba obat-obatan pada anak-anak, agar mendapat izin pemasaran, amatlah sulit dan mahal.
Dr. Siegfried Throm dari perhimpunan peneliti dari produsen obat-obatan menjelaskan, obat-obatan untuk penyakit anak-anak yang umum, tidak menimbulkan masalah. Untuk itu relatif gampang membuat ujicobanya. Dalam arti, terdapat cukup banyak anak-anak yang menderita sakit, dan juga pasarnya terbuka luas. Akan tetapi, untuk obat-obatan yang hanya diperlukan secara insidental, masalahnya berbeda. Disini terdapat pertimbangan, biaya pengembangan yang cukup tinggi, biasanya tidak bisa tertutup kembali dengan penjualan obat-obatannya. Karena itu, dalam bidang ini hanya sedikit dilakukan penelitian.
Dalam ujicoba terapi itu diteliti dengan kombinasi obat-obatan apa, kapan waktu pemberiannya dan dalam dosis seberapa besar, anak-anak dapat diobati secara lebih efektif. Dewasa ini sudah terdapat daftar dosis obat-obatan, yang sebetulnya tidak diperuntukkan bagi anak-anak. Akan tetapi hasil dari ujicoba terapi semacam itu belum mencukupi, bagi pemberian izin penggunaan obat bagi anak-anak secara umum. Penyebabnya, anak-anak tumbuh amat cepat, dan perubahan fungsi organ tubuhnya juga amat luar biasa, misalnya hati. Karena itu, obat-obatan harus diujicoba pada berbagai kelompok umur.
Dr. Dorothee Kieninger dari pusat ujicoba klinik di Universitas Mainz menjelaskan ; "Pada bayi yang baru lahir, hati memiliki mekanisme dan fungsi amat berbeda dengan anak usia enam tahun. Dan sampai umur 13 tahun fungsinya terus berubah. Demikian juga fungsi ginjal terus berubah. Ginjal memiliki fungsi menyaring racun dan membuang cairan. Fungsi ginjal pada anak-anak, pada tiap kelompok umur perubahannya amat ekstrim. Demikian juga perubahan pada organ tubuh lainnya."
Karenanya dosis obat-obatan harus akurat. Dan perubahan dosis tidak bisa gampangan dikaitkan hanya dengan perbedaan berat badan anak, melainkan tergantung dari bagaimana reaksi organ tubuh anak-anak terhadap obat, pengolahannya dalam tubuh dan pembuangannya kembali. Metabolisme pada bayi yang baru lahir, sangat berbeda dengan anak usia sekolah.
Undang-undang baru Uni Eropa mengenai standar obat-obatan, bertujuan agar semakin banyak obat-obatan yang dapat diizinkan penggunaannya untuk anak-anak. Akan tetapi hal itu ada gunanya jika obat-obatan itu juga ampuh untuk anak-anak.
Obat-obatan baru harus diuji coba pada berbagai kelompok umur, yang menjadi calon pengguna obat tsb. Tentu saja ujicoba akan dilakukan, jika obat baru tsb sudah diujicoba pada orang dewasa dan mendapat izin pemasaran. Demikian juga bagi obat-obatan yang sudah lama dipasarkan, hendak dilakukan ujicoba susulan menyanmgkut dampaknya bagi anak-anak. (http://groups.google.co.id/group/lowongan-kerja-cpns/browse_thread/thread/a58903663e6f60d8?hl=id&ie=UTF-8 )
ESTIMASI KETERSEDIAAN HAYATI OBAT.
Pada dasarnya, estimasi bioavailabilitas obat dapat dilakukan menurut metode-metode farmakokinetika dan klinik .Metode farmakokinetika mencoba memperkirakan availabilitas fisiologis obat melalui pengukuran obat unchanged di dalam darah/urin atau metabolit-metabolit yang terbentuk, sedangkan metode klinik didasarkan atas percobaan-percobaan klinik. Dalam hal ini diperlukan variabel klinik untuk mengukur efikasitas obat atau mengukur besarnya efek obat, seperti penurunan kadar gula darah, aktifitas komplek protrombin, dan sebagainya. Selain kedua metode tersebut di atas, bioavailabilitas obat dapat juga diperkirakan dari segi farmakologis seperti yang dilakukan oleh beberapa peneliti2,3.
Data farmakologis yang diperlukan untuk mengevaluasi dan mengoptimasi bioavailabilitas produk obat adalah pengukuran intensitas respons farmakologis yang berupa signal-signal, dipersyaratkan suatu respons bertingkat dalam fungsinya terhadap dosis. Respons ini tidak lain hasil interaksi antara zat aktif dan reseptor di tempat aksi, sehingga akan diperoleh availabilitas biofasik obat. Dalam hal ini, kemungkinan me-
Lakukan sampling untuk menentukan kadar obat di tempat aksi, dari mana dapat dikorelasikan antara dosis dan respons farmakologisnya.
Dengan uraian sederhana di atas, bioavailabilitas obat pada hakekatnya mempunyai arti luas dan terutama mempelajari efek-efek obat yang berasal dari suatu produk obat. Estimasi dan penilaian bioavailabilitas obat.Dari segi klinik meminta biaya yang tinggi dan membutuhkan banyak waktu, sedangkan secara farmakologis relatif juga mahal. Estimasi availabilitas fisiologis dengan mengukur plasma level obat atau ekskresi uriner zat aktifunchanged,atau kemungkinan lain yaitu saliva level obat merupakan cara yang cukup ekonomis dan relatif singkat. Asalkan cara ini dapat didesain, dikelola dan dievaluasi dengan baik, diharapkan hasil-hasilnya akan relatif dekat dengan potensi obat yang sebenarnya. Penilaian availabilitas fisiologis obat dapat ditarik dari beberapa variabel farmakokinetika, seperti luas area di bawah kurva, konsentrasi puncak.
(www-portalkalbe-files-cdk-files-05_KetersediaanHayatiObat_pdf-05_KetersediaanHayatiObat.htm)

V. Metodologi Percobaan
5.1. Alat-alat dan Bahan
5.1.1. Alat - alat
- Timbangan elektrik
- Oral sonde mencit
- Spuit 1 ml
- Stopwatch
- Alat suntik 1 ml
- Beaker glass 25 ml
5.1.2. Bahan bahan
- Mencit 6 ekor
- Phenobarbital-Na (Luminal-Na)
5.2. Prosedur Percobaan
1. Hewan ditimbang, dan ditandai
2. Dihitung dosis dengan pemberian :
- Mencit 1 : berat badan 38,5 g luminal 0,7 % dosis 50 mg/kg BB (i.p)
- Mencit 2 : berat badan 18,4 g luminal 0,7 % dosis 50 mg/kg BB (i.p)
- Mencit 3 : puasa berat badan 16,85 g, luminal 0,7 % dosis 50 mg/kg BB (oral)
- Mencit 4 : tanpa puasa berat badan 18 g, luminal 0,7 % dosis 50 mg/kg BB (oral)
- Mencit 5 : jantan berat badan 21,8 g, luminal 0,7 % dosis 50 mg/kg BB (i.p)
- Mencit 6 : betina berat badan 21,3 g, luminal 0,7 % dosis 50 mg/kg BB (i.p)
3. Diamati dan dicatat respon yang terjadi selang waktu 10 menit selama 90 menit.
4. Dibuat grafik jumlah respon vs waktu.





5.3. Flow Sheet
Untuk mencit III dan IV (per oral)
Mencit
Ditandai dan ditimbang
Dihitung dosis, dimasukkan obat ke oral sonde
Dipegang tengkuk mencit
Diselipkan jarum oral yang telah berisi obat berdekatan dengan langit-langit dan dorong hingga masuk ke esofagus
Didesak larutan obat keluar alat suntik
Diamati respon selama 90 menit dengan selang waktu 10 menit
Dibuat grafik respon vs waktu
Hasil

Untuk mencit I,II,V dan VI (intra peritoneal)
Mencit
Ditandai dan ditimbang
Dihitung dosis, dimasukkan obat ke spuit
Dipegang tengkuk mencit sedemikian rupa dengan tangan kiri sehingga ibu jari melingkar di bawah rahang (bukan tenggorokkan) sehingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala
Disuntikkan larutan obat pada bagian bawah tengah abdomen dengan cepat
Diamati respon selama 90 menit dengan selang waktu 10 menit

Dibuat grafik respon vs waktu
Hasil
VI. Perhitungan, Data, Grafik dan Pembahasan
6.1. Perhitungan Dosis
Dosis mencit I
Berat mencit : 38,5 gr
Dosis : Luminal Na 50 mg/kg BB (i.p)
[ ] obat : 0,7 %
Jumlah obat yang diberikan :
=
- Konsentrasi obat 0,7 %
= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml
- Jumlah larutan obat
Dosis mencit II
Berat mencit : 18,4 gr
Dosis : Luminal Na 50 mg / kg BB (oral)
[ ] obat : 0,7 %
Jumlah obat yang diberikan :
=
- Konsentrasi obat 0,7 %
= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml
- Jumlah larutan obat
Dosis mencit III
Berat mencit : 16,85 gr
Dosis : Luminal Na 50 mg/ kg BB (i.p)
[ ] obat : 0,7 %
Jumlah obat yang diberikan :
=
- Konsentrasi obat 0,7 %
= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg/ml
- Jumlah larutan obat
Dosis mencit IV
Berat mencit : 18,0 gr
Dosis : Luminal Na 50 mg / kg BB (oral)
[ ] obat : 0,7 %
Jumlah obat yang diberikan :
=
- Konsentrasi obat 0,7 %
= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml

- Jumlah larutan obat
Dosis mencit V
Berat mencit : 21,8 gr
Dosis : Luminal Na 50 mg / kg BB (oral)
[ ] obat : 0,7 %
Syringe : 80 skala
Jumlah obat yang diberikan :
=
- Konsentrasi obat 0,7 %
= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml
- Jumlah larutan obat
Dosis mencit VI
Berat mencit : 21,3 gr
Dosis : Luminal Na 50 mg / kg BB (oral)
[ ] obat : 0,7 %
Syringe : 80 skala
Jumlah obat yang diberikan :
=
- Konsentrasi obat 0,7 %
= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml
- Jumlah larutan obat

6.2. Data
No
Perlakuan
Waktu pengamatan (menit)
10
20
30
40
50
60
70
80
90
1
BB =38,5 gr
I.Luminal Na 0,7%;Dosis 50mg/Kg BB
(i.p)

1.2
1.3
1.3
1.3
1.3
1.4
1.4
1.4
1.4
2
BB = 18,4 gr
II. Luminal Na 0,7%; Dosis 50mg/kg BB (i.p)
1.2
1.2
1.2
1.2
1.3
1.3
1.3
1.4
1.4
3
Puasa
III. Luminal Na 0,7%; Dosis 50mg/kg BB (oral)
1.1
1.1
1.2
1.2
1.3
1.4
1.4
1.4
1.4
4
Tidak Puasa
IV. Luminal Na 0,7%; Dosis 50mg/kg BB (oral)
1.1
1.1
1.1
1.2
1.2
1.2
1.3
1.4
1.4
5
Jantan
V. Luminal Na 0,7%; Dosis 50mg/kg BB (i.p)
1.2
1.3
1.3
1.3
1.3
1.4
1.4
1.3
1.3
6
Betina
VI.Luminal Na 0,7%;Dosis 50mg/Kg BB(i.p)
1.2
1.2
1.1
1.1
1.1
1.2
1.3
1.3
1.4
Keterangan : 1.1 = Keadaan Normal 1.3 = Keadaan Gerak Lambat
1.2 = Keadaan Reaktif 1.4 = Keadaan Tidur

6.3. Grafik Percobaan
-----

6.4. Pembahasan
Dalam percobaan didapatkan bahwa berat badan yang berbeda selain mempengaruhi dosis yang harus diberikan juga mempengaruhi respon dari obat tersebut. Mencit yang berat badannya lebih besar menimbulkan respon yang lebih cepat dibandingkan mencit yang berat badannya lebih kecil, dimana pada menit ke 20 mencit dengan berat badannya 38,5 g lebih dahulu memberikan respon garuk-garuk dibandingkan mencit dengan berat badan 18,4 g. Ini bertentangan dengan teori, yang mengatakan bahwa berat badan yang lebih kecil memberikan respon terlebih dahulu.
Hal ini terjadi mungkin karena ada faktor lain yang mempengaruhinya, seperti genetis, dan kondisi mencit saat percobaan.
Dalam percobaan didapatkan bahwa mencit yang tanpa puasa memberikan respon yang lebih lambat daripada mencit yang dipuasakan, dimana mencit yang dipuasakan lebih dulu memberikan respon garuk-garuk daripada mencit tanpa puasa yaitu pada menit ke 30 sedangkan yang tanpa puasa pada menit ke 40.
Dari variasi jenis kelamin didapatkan hasil bahwa jantan terlebih dahulu yang memberikan respon yaitu pada menit ke 20 sudah mulai gerak lambat, sedangkan pada betina dalam waktu yang sama masih reaktif.













VII. Kesimpulan Saran
1.1. Kesimpulan
- Variasi biologi akan mempengaruhi dosis obat yang harus diberikan
Berat badan yang besar membutuhkan dosis yang tinggi, sebaliknya berat badan yang kecil membutuhkan dosis yang kecil pula.
Selain itu juga berhubungan dengan waktu pengosongan lambung, dimana tanpa puasa peyerapan obat akan lebih cepat bila dibandingkan dengan yang tidak puasa
- Variasi Jenis Kelamin
Jenis kelamin akan mempengaruhi respon obat yang diberikan, di mana jantan lebih cepat memberikan respon dari pada betina karena pengaruh hormon androgen.
1.2. Saran
- Dalam menghitung dosis hendaknya dihitung dengan benar karena dapat berpengaruh pada respon mencit.
- Agar praktikan diberikan bimbingan tentang cara pelaksanaan percobaan, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam percobaan.
















Daftar Pustaka
Katzung, Bertram G.,(2001), FARMAKOLOGI DASAR DAN KLINIK, Edisi ke-8, Penerbit Salemba Medika: Jakarta, halaman 53-56.
Lullmann, Heinz, dkk., (2000), COLOR ATLAS OF PHARMACOLOGY , Second Edition, Thieme Stuttgart: New York, Hal 76.
Olson, James, M.D., (1993), BELAJAR MUDAH FARMAKOLOGI, EGC: Jakarta, Hal 2 – 4.
Siswandono, (1995), KIMIA MEDISINAL, Air Langga University Press: Surabaya, Hal : 156-159.
Tanu, Ian. (2007), FARMAKOLOGI DAN TERAPI, Edisi 5.Gaya Baru; Jakarta. Hal 828-829.
http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=4915.0
http://groups.google.co.id/group/lowongan-kerja-cpns/browse_thread/thread/a58903663e6f60d8?hl=id&ie=UTF-8
www-portalkalbe-files-cdk-files-05_KetersediaanHayatiObat_pdf-05_KetersediaanHayatiObat.htm



DOSIS OBAT, RESPON DAN PENENTUAN INDEKS TERAPI

I. Pendahuluan
Dosis obat harus diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan tergantung dari banyak faktor, antara lain usia, bobot badan, kelamin, besarnya permukaan badan, beratnya penyakit dan keadaan daya tangkis penderita.
Takaran pemakaian yang dibuat dalam Farmakope Indonesia dan farmakope negara-negara lain hanya dimaksudkan sebagai pedoman saja. Begitu pula dosis maksimal (MD), yang bila dilampaui dapat mengakibatkan efek toksis, bukan merupakan batas yang harus mutlak ditaati. Dosis maksimal dari banyak obat dimuat di semua farmakope, tetapi kebiasaan ini sudah ditinggalkan oleh Farmakope Eropa dan negara-negara Barat, karena kurang adanya kepastian mengenai ketepatannya, antar lain berhubung dengan variasi biologi dan faktor-faktor tersebut di atas. Sebagai gantinya, kini digunakan dosis lazim, yaitu dosis rata-rata yang biasanya lazim memberikan efek yang diinginkan (Tjay & Rahardja, 2002).
Efek suatu senyawa obat tergantung pada jumlah pemberian dosisnya. Jika dosis yang diberi di bawah titik amabang (subliminsal dosis), maka tidak akan ada didapatkan efek. Respon tergantung pada efek alami yang dapat diukur. Kenaikan dosis mungkin akan meningkatkan efek pada intensitas tersebut. Seperti itu, efek obat antipiretik atau hipotensi dapat ditentukan tingkat penggunaannya, dalam arti bahwa luas (range) temperatur badan dan tekanan darah dapat diukur (Lullmann, 2000).
Dosis yang menimbulkan efek terapi pada 50 % individu disebut dosis terapi median atau dosis efektif median ( ED50 ). Dosis letal median ( LD50 ) ialah dosis yang menimbulkan kematian pada 50 % individu, sedangkan TD50 ialah dosis toksik 50 %.
Dalam studi farmakodinamik di laboratorium, indeks terapi suatu obat dinyatakan dalam rasio berikut :
Indek terapi = TD50/ED50 atau LD50/ED50
Akan tetapi, nilai-nilai ekstrim tersebut tidak dapat ditentukan dengan teliti karena letaknya di bagian kurva yang melengkung dan bahkan hampir mendatar (Setiawati dkk, 2007)
II. Tujuan Percobaan
- Untuk mengetahui nilai LD50 yang diperoleh dari percobaan,
- Untuk mengetahui nilai ED50 yang diperoleh dari percobaan,
- Untuk mengetahui nilai indeks terapi yang diperoleh dari percobaan.
III. Prinsip Percobaan
Pemberian Luminal Natrium 0,7% dengan variasi dosis 40 mg/kgBB, 80 mg/kgBB, 160 mg/kgBB, 320 mg/kgBB dan pemberian Luminal Na 2% dengan dosis 640 mg/kgBB secara intraperitonial berdasarkan berat badan hewan percobaan untuk mengetahui respon obat dengan pengamatan setiap interval waktu 10 menit selama 90 menit dan menentukan indeks terapi.



IV. Tinjauan Pustaka
Hubungan antara Dosis Obat dan Respons Klinis
Kita telah mengetahui reseptor sebagai molekul dan telah ditunjukkan bagaimana reseptor dapat dihitung secara kuantitatif hubungan antara dosis atau konsentrasi obat dan respon farmakologi, paling tidak pada system yang diidealkan. Ketika berhadapan dengan pasien yang membutuhkan perawatan, presciber harus membuat suatu pilihan karena adanya variasi kemungkinan obat dan memikirkan regimen pemberian yang disukai untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dan efek toksik yang minimal. Dalam rangka membuat keputusan terapeutik yang rasional, maka presciber harus memahami bagaimana obat-reseptor berinteraksi yang mendasari hubungan dosis dengan respons pada pasien, sifat alami dan penyebab variasi dalam kemampuan reaksi farmakologisnya, dan implikasi klinis pada obat yang bekerja slektif (Katzung, 9th Edition)
Graded Dose-Response Relations
Untuk memilih beberapa diantara obat dan untuk menentukan kesesuaian dosis obat, presciber harus mengetahui potensi farmakologi relatif dan efikasi maksimal obat-obat yang bersangkutan untuk medapatkan efek terapi yang diinginkan. Berikut ini ada dua istilah penting yang sering membingungkan siswa dan ahli medis dan dapat dijelaskan melalui gambar berikut.
Potensi
Obat A dan B dikatakan lebih poten daripada obat C dan D karena posisi yang relatif pada kurva dosis respon sepanjang sumbu konsentrasi. Potensi berhubungan dengan konsentrasi dosis (EC50) atau (ED50) obat yang dibutuhkan untuk mendapatkan 50% dari efek maksimal obat. Disini potensi farmakologi obat A lebih kecil daripada obat B, sebuah agonis parsial, karena EC50 Obat A adalah lebih besar daripada EC50 obat B. Potensi suatu obat tergantung pada afinitas (KD) pada reseptor untuk berikatan dengan obat pada bagian yang efisiensi dan yang membentuk reaksi obat-reseptor yang bergabung untuk memberikan respon. Sebagai catatan bahwa pada beberapa dosis A dapat menghasilkan efek yang lebih besar daripada obat B, walaupun pada kenyataannya kita gambarkan obat B secara farmakologi lebih poten. Alasan mengapa obat A mempunyai efikasi maksimal yang lebih besar, diterangkan sebagai berikut (Katzung, 9th Edition).
Untuk penggunaan klinis, adalah hal yang penting membedakan antara potensi dan efikasi suatu obat. Keefektivan klinis suatu obat tidak tergantung pada potensinya(EC50), tetapi tergantung pada efikasi maksimal dan juga tergantung kemampuan suatu obat untuk mencari reseptor yang relevan. Kemampuan ini dapat tergantung pada rute pemberian, absorbsi, distribusi dalam tubuh dan kliren dari arah atau juga reseptor. Untuk memilih dua obat yang akan diberikan pada pasien, presciber harus lebih mempertimbangkan efektivitas relatif daripada potensi relatifnya. Potensi farmakologi secara umum dapat ditentukan dengan cara pengaturan dosis dan pemilihan obatnya (Katzung, 9th Edition).
Efikasi Maksimal
Parameter in mencerminkan batasan hubungan dosis-respon pada sumbu respon. Obat A,C, dan D pada gambar di atas tadi mempunyai efikasi maksimal yang sama, semuanya mempunyai efikasi yang lebih besar daripada obat B.
Shape of Dose-Response Curves
Respon yang digambarkan pada kurva A, B, dan C mendekati bentuk persamaan Michaelis-Menten (ditrnsformasi menjadi bentuk plot logaritma), beberapa respon klinis tidak ada. Kurva dosis respon yang paling curam (missal kurva D)mungkin mempunyai konsekuensi klinis yang penting jika bagian atas mendatangkan suatu respon yang tidak diinginkan (koma, disebabkan oleh suatu sedative-hipnotip). Kurva dosis respon yang curam didapatkan dari kerjasama interaksi beberapa akasi yang berbeda dari suatu obat (missal, efek pada otak, jantung, perifer vessels, semua berkontribusi untuk menurunkan tekanan darah) (Katzung, 9th Edition).
Quantal Dose-Effect Curves
Graded dose-response curves pada gambaran kecil di atas tentu mempunyai batasan pada aplikasi klinisnya bagi yang mebuat keputusan. Sebagai contoh, beberapa kurva menjadi tidak mungkin untuk digambarkan jika respon farmakologi adalah lain, (quantal) terjadi, seperti pada pencegahan konvulsi, aritmia, atau kematian. Lagipula relevansi klinis hubungan kuantiatif dosis-respon pada seorang pasien.
Gambar Quantal dose-effect plots
Bentuk kotak (yang terdapat dalam kurva) menunjukkan frequensi distribusi obat yang dibutuhkan umtuk mengahasilkan efek spesifik (Katzung, 9th Edition).
Kurva dosis-efek kuantal sering ditandai oleh pernyataan Median Efektif Dosis (ED50), dosis dimana 50% pada individu menunjukkan efek spesifik kuantal. Dengan cara yang sama, dosis yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek toksik pada 50% binatang disebut dengan median toksik dosis (TD50), jika efek toksik mematikan binatang , maka median Letal dosis (LD50), akan didapatkan secara eksperimental (Katzung, 9th Edition).
Kurva dosis-efek kuantal mungkin juga digunakan untuk memperbaharui keamanan marginal menjadi seperti yang diharapkan dari suatu bagian obat untuk menhasilkan sebuah efek yang spesifik. Suatu ukuran, yang menghubungkan dosis obat yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek yang diinginkan untunk yang demikian menghasilkan efek yang tidak diinginkan, itu adalah indeks terapi (Katzung, 9th Edition).

Hubungan Dosis Respon
Efek suatu senyawa obat tergantung pada jumlah pemberian dosisnya. Jika dosis yang diberi di bawah titik amabang (subliminsal dosis), maka tidak akan ada didapatkan efek. Respon tergantung pada efek alami yang dapat diukur. Kenaikan dosis mungkin akan meningkatkan efek pada intensitas tersebut. Seperti itu, efek obat antipiretik atau hipotensi dapat ditentukan tingkat penggunaannya, dalam arti bahwa luas (range) temperatur badan dan tekanan darah dapat diukur (Lullmann, 2000).
Hubungan dosis-efek mungkin berbeda-beda tergantung pada sensitvitas individu yang sedang menggunakan obat tersebut. Sebagai contoh untuk mendapatkan efek yang sama kemungkinan dibutuhkan dosis yang berbeda pada individu yang bebeda. Variasi individu dalam sensitivitas secara khusus mempunyai efek “semua atau tak satupun” sama (Lullmann, 2000).
Hubungan frekuensi dosis dihasilkan dari perbedaan sensitivitas pada individu sebagai suatu rumusan yang ditunjukkan pada suatu log distribusi normal. Jika frekuensi kumulatif (total jumlah binatang yang memberikan respon pada dosis pemberian) diplotkan dalam logaritma maka akan menjadi bentuk kurva sigmoid. Pembengkokan titik pada kurva berada pada keadaan dosis satu-separuh kelompok dosis yang sudah memberikan respon. Range dosis meliputi hubungan dosis-frekuensi mencerminkan variasi sensitivitas pada individu terhadap suatu obat (Lullmann, 2000).
Evaluasi hubungan dosis efek di dalam sekelompok subjek manusia dapat ditemukan karena terdapat perbedaan sensitivitas pada individu-individu yang berbeda. Untuk menentukan variasi biologis, pengukuran telah membawa pada suatu sampel yang representatip dan didapatkan rata-ratanya. Ini akan memungkinkan dosis terapi akan menjadi seseuai pada kebanyakan pasien (Lullmann, 2000).
Range Terapi (Therapetic Range)
Dimanapun, pemonitoran terapi obat yang dilakukan, suatau range terapi biasanya digunakan untuk memandu mendapatkan konsentrasi optimum. Batasan range ini bukanlah suatu nilai yang mutlak. Beberapa pasien mungkin memberikan respon di atas atau di bawah range ini, sedangkan pada ynag lain mungkin akan mengalami efek toksik di dalam range terapi ini. Range ini hanyalah sebagai bantuan dalam penentuan dosis, yang selalu dipandang dari sudut tanggapan klinis (Roger Walker, 2003).
Perhitungan Dosis Respon
Reseptor Obat
Suatu reseptor adalah suatu makromolekul target khusus, berada pada permukaan sel atau intraselular, yang mengikat suatu obat dan menimmbulkan kerja farmakologiknya. Obat-bat bisa berinteraksi dengan enzim-enzim (misalnya hamabatan enzim dihidrofolat reduktase oleh trimetoprim, hal 296), asam nukleat (misalnya, perubahan permeabilitas membrane asetilkolin). Dalam tiap kasus, pembaentukan kompleks obat reseptor menghasilkan suatu respon biologik dan besarnya respon adalah proporsional dengan jumlah kompleks obat reseptor :
Obat + Reseptor → Kompleks Obat-reseptor → Efek
Konsep ini sangat mirip dengan pembentukan kompleks antara enzim dan substrat atau antigen antibodi: interaksi ini mempunyai banyak persamaan, mungkin paling penting adalah spesifisitas. Tetapi, reseptor tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk mengundang suatu ligand (obat) tetapi juga dapat merangkaikan atau mengubah ikatan ini menjadi suatu respons dengan cara menyebabkan suatu perubahan konformasional atau suatu efek biokimia (Mary J. Mycek, 2001).
Kurva Respons-Dosis Bertingkat
Suatu agonis didefisikan sebagai suatu obat yang dapat mengikat suatu reseptor dan menimbulkan respons. Besarnya efek obat tersebut tergantung pada konsentrasinya pada tempat reseptor yang ditentukan oleh dosis obat yang diberikan dan oleh factor-faktor khusus dari obat tersebut, seperti kecepatan absorbsi distribusi dan metabolisme. Efek dari suatu obat paling mudah dianalisis dengan membuat grafik besarnya respons versus log dosis obat tersebut, sehingga didapatkan suatu kurva respon dosis bertingkat.
1. Efikasi : Efikasi yaitu respon maksimal yang dihasilkan oleh suatu obat. Efikasi tergantung pada jumlah kompleks obat-reseptor yang terbentuk dan efisiensi reseptor yang diaktifkan dalam menghasilkan suatu kerja selular.
2. Potensi : Potensi, juga disebut konsentrasi dosis efektif yaitu suatu ukuran banyak obat dibutuhkan untuk menghasilakan suatu respons tertentu. Makin rendah dosis dibutuhkan untuk suatu respons yang diberikan, makin poten obat tersebut.
3. Slove kurva dosis-respons : slope daripada bagian tengah suatu kurva dosis-respons bervariasi dari satu obat dengan obat yang lainnya. Suatu slope yang curang menunjukkan bahwa suatu peningkatan dosis yang kecil menghasilkan suatu perubahan besar dalam respons (Mary J. Mycek, 2001).
Antagonis yang Reversibel
1. Kompetitif : obat-obat ini berinteraksi dengan reseptor pada temapt yang sama dengan agonis. Suatu antgonis kompetitif menggeserkan kurva dosis-respons ke kanan yang menyebabkan obat tersebut berlaku seakan-akan kurang poten.
2. Non-Kompetitif : obat-obat in bisa mencegah pengikatan agonis mengaktifkan reseptor. Suatu antagonis non-kompetitif mengurangi respons maksimal dan analog dengan suatu inhibitor non-kompetitif untuk reaksi yang dikatalisis enzim.
3. Agonis Partial : Agonis-agonis partial memblokir tempat pengikatan agonis, tetapi menybabkan respons yang lebih kecil daripada suatu agonis penuh (full agonist). Suatu agonis parsial bisa mempunyai afinitas pada reseptor yang lebih besar, lebih kecil atau sama dengan afinitas agonis (Mary J. Mycek, 2001).
Indeks Terapeutik
Indeks terpeutik suatu obat adalah rasio dari dosis yang menghasilkan toksisitas dengan dosis yang menghasilkan suatu respons yang efektif dan diinginkan secara klinik dalam suatu populasi individu.
Indeks Terapi = dosis toksik/ dosis efektif
Jadi, indeks terapeutik merupakan suatu ukuran keamanan obat karena nilai yang besar menunjukkan bahwa terdapat suatu batas yang luas/ lebar diantara dosis-dosis yang efektif dan dosis-dosis yang toksisk (Mary J. Mycek, 2001).
Penentuan Indeks Terapeutik
Indeks terapeutik ditentukan dengan mengukur frkuensi respons yang diinginkan dan respons toksik pada berbagai dosis obat (Mary J. Mycek, 2001).
Uji ketoksikan akut. Uji ini dirancang untuk menentukan efek toksik sesuatu senyawa (misal zat tambahan makanan) yang akan terjadi dalam waktu singkat setelah pemejanan atau pemberiannya dengan takaran tertentu. Satu uji ini dikerjakan dengan cara memberi dosis tunggal senyawa uji pada hewan uji (sekurang-kurangnya 2 jenis hewan uji roden dan nirroden, jantan maupun betina). Takaran dosis yang dianjurkan paling tidak empat peringkat dosis, berkisar dari dosis terendah yang tidak atau hampir tidak mematikan seluruh hewan uji sampai dengan dosis tertinggi yang dapat mematikan seluruh atau hampir seluruh hewan uji. Senyawa ini diberikan melalui jalur yang akan digunakan oleh manusia atau jalur yang memungkinkan manusia terpejani dengan senyawa itu. Biasanya pengamatan dilakukan selama 24jam, kecuali pada kasus tertentu selama 7-14 hari. Dan pengamatan tersebut meliputi : (1) gejala klinis, (2) jumlah hewan yang mati, dan (3) histopatologi organ (Imono, 2001).
Data kuantitatif yang diperoleh dari uji ketoksikan akut ini ialah LD50 sedang data kualitatifnya berupa penampakan klinis dan morfologis efek toksik senyawa uji. Data LD50 yang diperoleh dapat digunakan untuk potensi ketoksikan akut senyawa relatif terhadap senyawa lain. Selain itu, juga dapat digunakan untuk memperkirakan takaran dosis uji toksikologi lainnya (Imono, 2001)
Analisa tentang kaitan dosis dan efek antihipertensi dari 4 jenis ARB diperoleh dari evaluasi FDA terhadap losartan, valsartan, irbesartan, dan candesartan. Semuanya merupakan studi RCT. Semua studi memiliki populasi pasien yang mirip (pria maupun wanita dewasa dengan hipertensi diastolik primer skala ringansedang, dan DBP tipikal 95-114 mmHg) (http://www.majalah-farmacia.com).
Semua studi memiliki desain awal single- blind placebo diikuti sedikitnya 4 minggu terapi double-blind. Studi yang terseleksi dimasukkan dalam metaanalisis untuk melihat kaitan antara respon dan dosis masing-masing obat. Hubungan antara respon-dosis dinilai dengan mencocokkan pengaturan plasebo, rata-rata penurunan DBP masing-masing obat hingga nilai Emax (http://www.majalah-farmacia.com).
Masuk akal kenapa digunakan kurva Emax untuk menilai kaitan antara dosis dan respon obat yang sebenarnya. Model ini menganggap presisi lebih rendah daripada optimal dalam menentukan efek masing-masing obat. Selain itu menerapkan berat untuk jumlah pasien yang diberi masing-masing dosis. Ada alternatif model selain Emax namun lebih kompleks dan memasukkan lebih banyak parameter. Model Emax yang digunakan dalam analisis ini adalah : Effect = E0 + Emax x Dosis/(ED50 + dosis). Di mana Emax secara teori adalah efek maksimal yang bisa didapat dengan dosis besar tak terbatas. ED50 adalah dosis yang dibutuhkan untuk mencapai setengah efek maksimal, E0 adalah kondisi yang merepresentaskan efek placebo (http://www.majalah-farmacia.com).
Setelah dianalisis, Emax (efek maksimal pada dosis tertinggi) dalam penurunan DBP adalah 5,5 mmHg untuk losartan, 5,8 mmHg untuk valsartan, 6,9 mmHg untuk irbesartan, dan 7,5 mmHg untuk candesartan. Kesimpulannya, peneliti menunjukkan bahwa candesartan mengurangi tekanan darah sistolik lebih besar secara signifikan dibandingkan valsartan. Hasil ini sama dengan studi head-to-head sebelumnya yang membuktikan bahwa candesartan memiliki efek antihipertensi paling tinggi dibandingkan losartan pada dosis yang direkomendasikan. Perbedaan efikasi di antara ARB pada pasien hipertensi menunjukkan pentingnya tekanan darah terkontrol (http://www.majalah-farmacia.com).
Analisa studi ini menunjukkan ada perbedaan penting pada efikasi antihipertensi pada dosis tertinggi yang direkomendasikan. Rata-rata perbedaan di antara obat antihipertensi paling efektif (candesartan) dan paling lemah (losartan) dari ARB yang diteliti adalah 2 mmHg untuk dosis 16 mg dan 100 mg. Selain itu, nilai Emax yang sangat signifikan dari candesartan dibandingkan valsartan mendukung kesimpulan bahwa ada perbedaan nyata dalam hal efek antihipertensi di antara semua jenis ARB(http://www.majalah-farmacia.com).
Penurunan DBP sektar 5 mmHg dengan terapi antihipertensi menujukkan penurunan penanda mortalitas dan morbiditas kardiovaskular. Penurunan terkecil (misalnya 2 mmHg) juga akan memiliki dampak penting secara klinis dalam terapi jangka panjang. Jadi perbedaan tekanan darah yang tidak terlalu besar tetap berkaitan dengan perbedaan kejadian kardiovakular yang signifikan pada pasien risiko tinggi, seperti pasien diabetes dengan hipertensi (http://www.majalah-farmacia.com).
Hasil analisis Emfelt berada dalam satu jalur dengan beberapa studi head-tohead yang membandingkan efek candesartan dan losartan terhadap tekanan darah, yang secara superioritas candesartan terlihat amat signifikan. Dibandingkan dengan studi silang yang lebih kecil, hasilnya juga sejalan, di mana candesartan mengurangi tekanan darah lebih efektif dibandingkan losartan maupun valsartan (http://www.majalah-farmacia.com).
Hanya ada satu studi yang langsung membandingkan losartan dan candesartan yang tidak bisa menunjukkan perbedaan efek candesartan lebih signifikan dalam menekan tekanan darah. Bahkan, penelitian Colin dkk tidak menemukan perbedaan efek antara beberapa ARB. Ini juga harus diberi catatan bahwa metaanalisis mereka hanya berdasarkan studi-studi yang dipublikasikan sebelum waktu yang seharusnya. Dan memang hanya sedikit studi head-to-head yang membandingkan beberapa jenis ARB. Termasuk belum pernah dilakukan studi head-to-head antara candesartan dan irbesartan. (http://www.majalah-farmacia.com).
Berdasarkan hasil berbandingan headto- head antara candesartan dan losartan, maka dapat disimpulkan bahwa efek antihipertensi candesartan lebih superior daripada losartan, pada dosis yang direkomendasikan. Penjelasan yang paling sering dikemukakan terhadap perbedaan Emax dalam studi ini adalah secara statistk tidak signifikan serta jumlah studi dan pasien yang terbatas, termasuk dalam studi yang menilai kaitan antara dosis dan respon untuk losartan. Faktanya, perbedaan rata-rata Emax antara candesartan dan losartan adalah 2 mmHg, lebih baik pada candesartan. Artinya candesartan memiliki efek antihipertensi yang superior (http://www.majalah-farmacia.com).
Analisis ini akhirnya bisa menunjukkan kaitan antara dosis dan respon di antara beberapa jenis antihipertensi ARB. Sangat mungkin bahwa kaitan antara dosis dan efek lain juga berbeda. Misalnya, dosis yang lebih tinggi dibandingkan dosis optimal dilihat dari sudut pandang penurunan tekanan darah , mungkin akan lebib bermanfaat daripada sekadar menurunkan tekanan darah. Milsanya terhadap proteksi ginjal untuk menurunkan proteinuria (http://www.majalah-farmacia.com).
Sebagai kesimpulan, penelitian Emfelt yang memsukkan nilai Emax menunjukkan candesartan bisa mengurangi tekanan darah diastolik secara signifikan dibandingkan valsartan. Beberapa perbandingan head-to-head membuktikan candesartan memiliki efek antihipertensi lebih superior dibandingkan losartan pada dosis yang direkomendasikan. Jadi benar bahwa perbedaan efikasi di antara semua jenis ARB memang ada. Observasi ini hendaknya diterapkan dalam pemilihan ARB ketika menangani pasien hipertensi, dengan menekankan pentingnya control tekanan darah dengan baik (http://www.majalah-farmacia.com).
INDIVIDUALISASI DOSIS DALAM FARMAKOTERAPI
Dalam praktek, pemberian obat pada umumnya didasarkan atas dosis rata-rata, yaitu dosis yang diperkirakan memberikan efek terapeutik dengan efek samping minimal. Bila dosis rata-rata itu tidak menimbulkan efek sama sekali atau sudah menimbulkan efek yang berlebihan, biasanya dokter dengan segera menghentikan pengobatan karena dianggap 'tidak cocok' bagi penderita, tanpa perlu mempertimbangkan apakah dosis yang diberikan itu memang sudah sesuai dengan kebutuhan penderita (http://www.kalbe.co.id).
Pentingnya individualisasi dosis menjadi semakin beralasan ketika Brodie dkk. memperlihatkan bahwa ada perbedaan spesies, strain dan individual dalam kecepatan metabolisme obat.. Kemudian, Hammer dan Sjoqvist menemukan ada perbedaan individual sebesar 30 x lipat dari kadar "steady state" desmetil imipramin yang diresepkan pada suatu dosis tertentu. Perbedaan individuil kadar obat dalam keadaan "steady state" ini barangkali tidak menimbulkan masalah dalam penentuan besar dosis bila “Therapeutic window” dari obat yang bersangkutan cukup besar. Tetapi bila "therapeutic window" suatu obat sempit, individualisasi dosis menjadi penting, karena perbedaan dosis yang kecil saja (dalam mg/kgBB) sudah dapat menimbulkan perbedaan nyata dalam respons. Individualisasi dosis dengan mudah dapat dilakukan bila efek obat mudah diukur, sehingga besar dosis dapat dititrasi sesuai dengan intensitas respons yang sedang diamati. Bila respons penderita sukar diamati dengan segera, misalnya karena tujuan pengobatan bersifat profilaksis, atau sukar membedakan efek akibat dosis berlebihan dengan gejala penyakit, titrasi dosis hanya dapat dilakukan dengan baik berdasarkan panduan kadar obat dalam darah (http://www.kalbe.co.id).
Dengan demikian dapat diringkaskan bahwa monitoring kadar terapeutik obat bermanfaat dilakukan guna menentukan dosis dari obat-obat yang kecepatan metabolismenya berbeda nyata secara individual, mempunyai "therapeutic window" yang sempit, efek terapeutiknya sukar atau tidak segera dapat diukur gejala penyakit sukar dibedakan dengan efek samping obat dan kecepatan metabolisme mudah jenuh (http://www.kalbe.co.id).
Takaran obat resep harus cukup tinggi untuk menyerang penyakit yang bersangkutan, tetapi cukup rendah agar menghindari munculnya efek samping yang berat. Obat lain, baik non-resep atau narkoba, jamu, atau bahkan makanan kadang kala mengakibatkan perubahan besar pada jumlah suatu obat dalam aliran darah kita. Hal ini diketahui sebagai ‘interaksi obat’. Interaksi obat adalah masalah yang penting karena tingkat obat yang terlalu tinggi dalam aliran darah dapat mengakibatkan efek samping yang berat. Sebaliknya tingkat obat yang terlalu rendah dapat berarti obat tersebut tidak berhasil (http://www.spiritia.or.id).
Tubuh kita mengenal obat sebagai ‘zat asing.’ Jadi obat diuraikan oleh tubuh, biasanya sebagai air seni atau kotoran (tinja). Banyak obat dikeluarkan tanpa perubahan oleh ginjal dalam air seni. Obat lain harus diuraikan oleh hati kita. Enzim di hati mengubah molekul obat, yang kemudian dikeluarkan dalam air seni atau tinja.Waktu kita meminum pil, obat jalan dari perut ke usus dan kemudian masuk hati sebelum mengalir ke bagian tubuh yang lain. Jika obat mudah diuraikan oleh hati, hanya sedikit obat sampai ke tubuh (http://www.spiritia.or.id).
Interaksi obat yang paling umum melibatkan hati. Beberapa obat dapat memperlambat atau mempercepat proses enzim hati. Ini dapat mengakibatkan perubahan besar pada tingkat obat lain dalam aliran darah, jika obat tersebut diuraikan oleh enzim yang sama.Beberapa obat memperlambat proses ginjal. Ini meningkatkan tingkat bahan kimia yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal (http://www.spiritia.or.id).
Pil apa pun yang kita minum melalui perut kita, lalu diserap dan masuk ke aliran darah. Kebanyakan obat diserap lebih cepat jika perutnya kosong. Penyerapan lebih cepat adalah baik untuk beberapa obat, tetapi juga dapat mengakibatkan efek samping yang lebih berat. Beberapa obat harus dipakai dengan makanan agar diuraikan lebih lambat atau untuk mengurangi efek samping. Beberapa obat lain melarutkan dalam lemak, sehingga diserap lebih cepat. Oleh karena ini, ada obat yang harus dipakai dengan makanan berlemak agar cukup diserap. Namun hal ini juga dapat mengakibatkan efek samping yang lebih berat, misalnya untuk efavirenz (http://www.spiritia.or.id).
Asam perut menguraikan beberapa obat, termasuk ddI. Tablet ddI asli termasuk dapar atau ‘buffer’ – bahan antiasam yang melindungi obat tersebut dari asam perut. Namun dapar tersebut mengganggu penyerapan indinavir, jadi ddI tidak boleh dipakai sekaligus dengan indinavir. Versi ddI baru (EC) lebih mudah dipakai (http://www.spiritia.or.id).
Perempuan yang memakai pil KB sebaiknya bicara dengan dokter tentang interaksi obat. Beberapa ARV dapat menurunkan tingkat obat KB ini, dan menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan (http://www.spiritia.or.id).
V. Metodologi Percobaan
5.1. Alat dan Bahan
5.1.1. Alat
- syringe 1 ml
- spidol permanent
- tinabangan elektrik
- stopwatch
- beaker glass 25 ml
- erlenmeyer 10 ml
5.1.2. Bahan
- mencit 5 ekor
- aquadest
- luminal Na 0,7%
- luminal Na 2%
5.2. Prosedur Percobaan
1. Ditimbang hewan dan ditandai
2. Dihitung dosis dan diberikan :
1. pada mencit I, Luminal Na 0,7%, dosis 40 mg/kgBB secara intraperitonial,
2. pada mencit II, Luminal Na 0,7%, dosis 80 mg/kgBB secara intraperitonial,
3. pada mencit III, Luminal Na 0,7%, dosis 160 mg/kgBB secara intraperitonial,
4. pada mencit IV, Luminal Na 0,7%, dosis 320 mg/kgBB secara intraperitonial,
5. pada mencit V, Luminal Na 2%, dosis 640 mg/kgBB secara intraperitonial
3. Diamati (menit ke berapa memberikan respon)
4. Dihitung LD50 dan Indeks terapi.



5.3. Flowsheet
· Mencit I pemberian Intraperitoneal, Luminal Na 0,7 %, dosis 40 mg/Kg BB
Mencit
Ditimbang dan ditandai
Dihitung dosis pemberiannya
Diinjeksikan spuit yang telah berisi obat ke rongga peritonial
Didesak larutan obat keluar dari alat suntik
Diamati respon yang terjadi pada mencit selang waktu 10 menit selama 90 menit
HasilDihitung LD50, ED50 dan indeks terapi


· Mencit II pemberian Intraperitoneal, Luminal Na 0,7 %, dosis 80 mg/Kg BB
Mencit
Ditimbang dan ditandai
Dihitung dosis pemberiannya
Diinjeksikan spuit yang telah berisi obat ke rongga peritonial
Didesak larutan obat keluar dari alat suntik
Diamati respon yang terjadi pada mencit selang waktu 10 menit selama 90 menit
HasilDihitung LD50, ED50 dan indeks terapi


·Mencit III pemberian Intraperitoneal, Luminal Na 0,7 %, dosis 160 mg/Kg BB
Mencit
Ditimbang dan ditandai
Dihitung dosis pemberiannya
Diinjeksikan spuit yang telah berisi obat ke rongga peritonial
Didesak larutan obat keluar dari alat suntik
Diamati respon yang terjadi pada mencit selang waktu 10 menit selama 90 menit
HasilDihitung LD50, ED50 dan indeks terapi


· Mencit IV pemberian Intraperitoneal, Luminal Na 0,7 %, dosis 320 mg/Kg BB
Mencit
Ditimbang dan ditandai
Dihitung dosis pemberiannya
Diinjeksikan spuit yang telah berisi obat ke rongga peritonial
Didesak larutan obat keluar dari alat suntik
Diamati respon yang terjadi pada mencit selang waktu 10 menit selama 90 menit
HasilDihitung LD50, ED50 dan indeks terapi



· Mencit V pemberian Intraperitoneal, Luminal Na 2 %, dosis 640 mg/Kg BB
Mencit
Ditimbang dan ditandai
Dihitung dosis pemberiannya
Diinjeksikan spuit yang telah berisi obat ke rongga peritonial
Didesak larutan obat keluar dari alat suntik
Diamati respon yang terjadi pada mencit selang waktu 10 menit selama 90 menit
HasilDihitung LD50, ED50 dan indeks terapi

VI. Perhitungan, Data, Grafik dan Pembahasan
6.1. Perhitungan Dosis
Mencit I
berat badan = 20,1 g
dosis Luminal Na = 40 mg/kgBB
konsentrasi = 0,7%



Mencit II
berat badan = 18,7 g
dosis Luminal Na = 80 mg/kgBB
konsentrasi = 0,7%
Mencit III
berat badan = 36,7 g
dosis Luminal Na = 160 mg/kgBB
konsentrasi = 0,7%


Mencit IV
berat badan = 18,5 g
dosis Luminal Na = 320 mg/kgBB (Intraperitoneal)
konsentrasi = 0,7%
Mencit V
berat badan = 19,6 g
dosis Luminal Na = 640 mg/kgBB
konsentrasi = 2%

Perhitungan ED 50
Log ED 50 = a-b ( ∑pi – 0,5)
Dimana : a adalah log dosis terendah yang masih dapat memberikan respon 100% tiap kelompok.
b adalah logaritma dosis yang berurutan.
a = log 40 = 1,602
b = log80 – log40 = 0,301
Pi = 1
Log ED50 = 1,602 – 0,301(1-0,5)
= 1,4515
Maka ED 50 = 28,28 mg/kgBB


6.3. Grafik Percobaan
------------
6.4. Pembahasan

Pada percobaan ini konsentrasi Luminal Na yang diberikan pada mencit yaitu 0,7% diberikan pada mencit I sampai mencit yang ke IV dan konsentrasi 2% diberikan pada mencit V, dengan variasi dosis dari mencit I-V secara berurutan 40, 80, 160, 320, dan 640 (mg/kgBB). Pada mencit V diberikan konsentrasi 2% karena jika diberikan pada konsentrasi yang sama dengan yang lainnya akan didapatkan volume sediaan yang cukup besar, sehingga tidak mungkin untuk menginjeksikannya pada mencit yang ukuran badannya relatif kecil. Disini memang kita melihat faktor konsentrasi tidak begitu menentukan respon obat. Dalam diktat kuliah farmakokinetika (Azizah Nasution), disana terdapat bahwa besarnya respon obat yang dihasilkan tergantung pada jumlah obat yang berikatan dengan reseptor, dimana jumlah obat yang berikatan dengan reseptor ini sebanding dengan jumlah obat bebas dalam plasma.
Penentuan respon dan penentuan indeks terapi Luminal Natrium 0,7% dan 2% yang diujikan pada hewan mencit diperoleh dosis terendah yang memberikan efek tidur ataupun gerak lambat yaitu 80 mg/kg BB, dosis ini digunakan untuk menentukan ED 50. Pada peningkatan dosis 160 mg/kg BB dan 320 mg/kg BB menunjukkan efek toksik yang dapat dilihat dengan depresi pernafasan dan pingsannya beberapa ekor mencit. Dan peningkatan dosis yang dilakukan sampai 640 mg/kg BB memberikan efek letal pada 3 ekor mencit, dan pada 2 ekor yang lain hanya smpai batas pingsan dalam rentang waktu 90 menit tersebut. Efek suatu senyawa obat tergantung pada jumlah pemberian dosisnya. Jika dosis yang diberi di bawah titik amabang (subliminsal dosis), maka tidak akan ada didapatkan efek. Respon tergantung pada efek alami yang dapat diukur. Kenaikan dosis mungkin akan meningkatkan efek pada intensitas tersebut. Seperti itu, efek obat antipiretik atau hipotensi dapat ditentukan tingkat penggunaannya, dalam arti bahwa luas (range) temperatur badan dan tekanan darah dapat diukur (Lullmann, 2000).
Menurut Tan Hoan Tjay dan Kirana Rahardja (2002) dalam buku Obat-Obat Penting, senyawa turunan barbiturat seperti Luminal bila digunakan sebagai sedativ-hipnotika memiliki range terapi yang relatif agak lebar (15-30) mg memberi efek sedativ dan 100 mg atau lebih memberi efek hipnotik) walaupun tidak seluas range terapi obat-obat bebas.
Ketidaksesuaian ini kemungkinan dapat disebabkan oleh variasi biologis pada mencit yang digunakan sebagai hewan percobaan seperti kondisi stress, dan prosedur pemberian Luminal yang menggunakan jarak dosis dengan logaritma lebar (dosis 320 mg/kgBB telah menunjukkan efek toksik yang hebat, dimana mencit mengalami depresi pernafasan berat (bernafas satu-satu) dan tidak bereaksi sama sekali atas gangguan apapun). Kemungkinan, pada dosis 320 mg/kgBB mencit telah mengalami keadaan koma/vegetatif (entering a comatose state), sehingga pemberian kelipatan log dosis berikutnya (640 mg/kgBB) adalah terlalu lebar jaraknya dari dosis toksik.
Selain itu, menurut Bertram Katzung (2001) dalam buku Farmakologi Dasar dan Klinis, penentuan indeks terapeutik tidak selalu memiliki tingkat kepercayaan 100% dalam menentukan tingkat keamanan suatu obat yang digunakan, baik dalam laboratorium ataupun secara klinis. Percobaan-percobaan obat sering menunjukkan suatu rentang dosis obat yang biasanya efektif dengan suatu (tetapi kadang-kadang tumpang tindih) dengan rentang lain dari dosis-dosis yang mungkin toksik. Walaupun pernyataan ini lebih relevan pada manusia daripada hewan, Katzung menekankan bahwa perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh adanya variabilitas biologis, maka tidak tertutup kemungkinan kekurangtepatan ini terjadi juga pada hewan, dalam hal ini mencit.


Daftar Pustaka


Imono, A.D., (2001), TOKSIKOLOGI DASAR, Universitas Gajah Mada: Yogyakarta
Halaman : 200-201.

Katzung,R-Bertram G., BASIC & CLINICAL PHARMACOLOGY, 9th Edition, Halaman 42-45 (Dalam bentuk Digital Text Book).

Lullmann, Heinz, dkk., (2000), COLOR ATLAS OF PHARMACOLOGY , Second Edition, Thieme Stuttgart: New York, Hal 52.

Mycek, Mary J., (2001), FARMAKOLOGI ULASAN BERGAMBAR, Edisi 2, Widya Medika: Jakarta, Halaman 21-23.

Walker, Roger & Clive Edwards, (2003), CLINICAL PHARMACY AND THREPEUTICS, Third Edition, Churchill Livingstone: Edinburgh, Halaman 8.

http://www.kalbe.co.id
http://www.majalah-farmacia.com
http://www.spiritia.or.id



ANTAGONIS OBAT

I. Pendahuluan
Reseptor muskarin berada di neuron postganglion dan dapat dalam minimal 3 subtipe, yakni resptor M1, M2 dan M3. Ketiga jenis reseptor ini bila dirangsang memberikan efek yang berlainan. Dimana M1 pada neuron mengalami aktivasi dan pada ganglion simpatis bila dirangsang akan terjadi pelepasan noradrenalin lebih banyak. M2 pada miokard terjadi kontraksi yang makin besar dan pada jaringan nodus bila distimulasi akan menyebabkan bradikardia. Pada M3 yang terdapat pada kelenjar eksokrin terjadi penyaluran AV menjadi lebih kecil, pada ileum terjadi sekresi dan pada pembuluh terjadi relaksasi langsung karena kontraksi menyebabkan via endotel mengalami relaksasi (Tan Hoan Tjay, 2002).
Agonis reseptor muskarinik umumnya berbentuk suatau senyawa amonium kuartener. Contohnya antara lain adalah pilokarpin, arekolin, dan karbakol; mereka bersifat tidak selektif terhadap subtipe reseptor muskarinik. Senyawa-senyawa tersebut tidak digunakan secara klinis, efeknya adalah salivasi berlebihan dan berkeringat. Agonis lain, oksotremorin bahkan menyebabkan tremor, sehingga digunakan dalam penelitian untuk membuat suatu model penyakit parkinson. Agonis lain yang sedang dikembangkan adalah xanomelin dan talsaklidin untuk pengobatan penyakit Alzheimer. Diketahui, penyakit Alzheimer ditandai dengan kemunduran kognisi dan memori yang disebabkan karena defisiensi asetilkolin di otak. Karena itu, salah satu terapinya adalah dengan mengaktifkan reseptor asetilkolin yang terkait (M1) dengan suatu agonis (Z. Ikawati, 2006).
Obat atropin dan skopolamin bekerja menyekat reseptor muskarinik yang menyebabkan hambatan semua fungsi muskarinik. Atropine, alkaloid belladonna, memiliki afinitas kuat terhadap reseptor muskarinik, dimana obat ini terikat secara kompetitif, sehingga mencegah asetilkolin terikat pada tempatnya di reseptor muskarinik. Atropine menyekat reseptor muskarinik baik di sentral maupun di saraf tepi. Kerja obat ini secara umum berlansung sekitar 4 jam kecuali bila diteteskan ke dalam mata, maka kerjanya bahkan sampai berhari-hari
Atropine menyekat semua aktivitas kolinergik pada mata, sehingga menimbulkan midriasis (dilatasi pupil), mata menjadi tidak bereaksi terhadap cahaya dan siklopegia (ketidakmampuan memfokus untuk untuk penghilatan dekat). Pada pasien dengan glaukoma, tekanan intaokular akan meninggi secara membahayakan. Pada individu yang lebih tua, pemakaian atropine dapat menimbulkan midriasis dan siklopegi dan keadaan ini cukup gawat karena dapat menyebabkan serangan glaukoma berulang setelah menjalani kondisi tenang ( Mary J.Mycek, 2001).

II. Tujuan Percobaan
- Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan karena pemberian pilokarpin pada kedua mata kelinci,
- Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan karena pemberian atropin kedua mata kelinci setelah pemberian pilokarpin,
- Untuk mengetahui mekanisme kerja obat antagonis, dalam hal ini atropin-pilokarpin,

III. Prinsip Percobaan
- Pilokarpin adalah obat kolinomimetik, yaitu mempunyai efek agonis pada reseptor muskarinik. Didasarkan atas sifat antagonisme kompetitif yang bersifat reversibel, dimana efek pilokarpin sebagai agonis dihambat oleh atropin sebagai antagonis kompetitif sehingga menghambat efek obat yang terdapat pada reseptor muskarinik.
- Pengamatan efek antagonisme dilakukan dengan mengukur diameter dari pupil mata kelinci sebelum dan setelah pemberian pilokarpin dan dilanjutkan dengan pemberian atropin. Sebelum pemberian pemberian obat diameter pupil kelinci adalah normal dan akan memberikan respon terhadap cahaya. Setelah pemberian pilokarpin akan menyebabkan pengecilan pupil (miosis) mata kelinci, mengurangi respon terhadap cahaya, sedangkan pemberian atropin akan menyebabkan pembesaran pupil mata (midriasis) mata kelinci dan mengurangi respon terhadap cahaya.
IV. Tinjauan Pustaka
Antagonisme pada reseptor terjadi melalui system reseptor yang sama. Artinya antagonis mengikat reseptor di tempat ikatan agonis ( receptor site atau active site ) sehingga terjadi antagonisme antara agonis dan antagonisnya. Misalnya efek histamine yang dilepaskan dalam reaksi alergi dapat dicegah dengan pemberian antihistamin yang menduduki reseptor yang sama (Zunilda SB, 1995).
Antagonisme pada reseptor dapat diukur berdasarkan interaksi obat dan reseptor. Agonis adalah obat yang bila menduduki reseptor menimbulkan efek farmakologi secara instrinsik, sedangkan antagonis adalah obat yang menduduki reseptor yang sama tetapi secara instrinsik tidak mampu menimbulkan efek farmakologi. Jadi, antagonis menghalangi ikatan reseptor dengan agonis nya sehingga kerja agonis terhambat. Antagonis demikian juga disebut receptor bocker tau blocker saja. Jadi bloker tidak berefek instrinsik karena efek yang terlihat bukan efek langsung melainkan penghambatan efek agonis (Zunilda SB, 1995).
Pada antagonisme kompetitif, antagonis berikata dengan receptor sita secara reversibel sehingga dapat digeser oleh agonis kadar tinggi. Dengan demikian penghambatan efek agonis dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis sampai akhirnya dapat dicapai efek maksimal. Jadi, diperlukan kadar agonis yang lebih tinggi untuk memperoleh efek yang sama. Ini berarti afinitas agonis terhadap reseptornya menurun (Zunilda SB, 1995).
Pada antagonisme nonkompetitif, penghambatan efek agonis tidak dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis. Akibatnya, efek maksimal yang dicapai akan berkurang tetapi afinitas agonis terhadap reseptornya tidak berubah (Zunilda SB, 1995).
Antagonisme nonkompetitif terjadi bila antagonis mengikat reseptor secara ireversibel, di receptor site atau ditempat-tempat lain, sehingga menghalangi ikatan agonis dengan reseptornya. Dengan demikian antagonis mengurangi jumlah reseptor yang tersedia untuk berikatan dengan agonisnya sehingga efek maksimal akan berkurang. Tetapi afinitas agonis terhadap reseptor yang bebas tidak berubah. Contohnya, fenoksibenzamin mengingikat reseptor adrenergik alfa di reseptor site secara ireversibel (Zunilda SB, 1995).
Glaukoma
Glaukoma yaitu salah satu kelainan yang berhubungan dengan penglihatan yang menyebabkan neuropathy optic yang ditandai oleh perubahan saraf optik (Optic disk) yang dihubungkan dengan berkurangnya bidang sensitivitas penglihatan. Peningkatan tekanan intraokuler merupakan kriteria diagnostik glaukoma. Dua tipe utama glaukoma yang sudah diidentifikasi yaitu sudut terbuka (open angle) dan sudut terbuka (open angle). Glaukoma sudut terbuka merupakan kasus yang sering terjadi. Tipe yang lain dapat disebabkan oleh kelainan primer yang diwariskan, bawaan sejak lahir, atau juga dapat disebabkan kelainan sekunder seperti trauma atau obat-obatan, dan dapat memicu komplikasi (kesulitan) yang serius. Keduanya glaukoma primer maupun sekunder mungkin disebabkan oleh gabungan mekanisme dari glaukoma sudut terbuka.
Dinamika Cairan Mata dan tekanan intraokuler (Michael Brown, 2005).
Pemahaman mengenai dinamika cairan mata dan tekanan intraokuler akan membantu pembaca untuk mempelajari terapi obat untuk glaukoma (Michael Brown, 2005).
Cairan mata (aqueous humor) dibentuk di badan siliar dan menembus epiteliumnya untuk filtrasi dan sekresi. Karena ultrainfiltrasi tergantung pada gradient tekanan, tekanan darah, dan perubahan tekanan intraokuler akan mempengaruhi formasi cairan mata. Gradient osmotik dihasilkan oleh sekresi aktif sodium dan bikarbonat, dan mungkin juga disebabkan zat terlarut lain seperti askorbat yang dihasilkan epitel sel badan siliar ke dalam cairan mata, yang menebabkan bergeraknya air dari tempatnya pada stromal siliar ultrainfiltrasi ke dalam camber (kamar) belakang, sehingga terjadi pembentukan cairan mata (Michael Brown, 2005).
Gambar atas sebelah kiri adalah gambar mata normal. Catat bahwa permukaan selaput pelangi adalah yang sangat textured dan kali lipatan. Bagian atas, Arus cairan mata yang normal. Cairan mata,yang diproduksi camber belakang, mengalir ke dalam kamar yang di depan. Jalan kecil yang utama untuk jalan ke luar cairan mata jemu akan trabecular meshwork, ke dalam Saluran Schlemm's. Jalan kecil Outflow kecil ( Uveoscleral Dan Selaput pelangi, yang yang tidak dilukiskan) berperan untuk suatu luas terbatas ke outflow mengandung air. Gamabar bawah kanan, glaukoma Sudut utama ditinggalkan. Di dalam mata yang dipengaruhi, keterangan tambahan yang temporer selaput pelangi di pupillary garis tepi kepada lensa menghalangi jalan lintasan cairan mata dari camber depan kepada yang di depan camber. Tekanan bertamabah dalam camber belakang, menekan selaput pelangi dan occluding trabecular meshwork. Gambar bawah kiri lebih, Suatu neovascular selaput telah tumbuh di atas permukaan selaput pelangi, menambah lipatan selaput pelangi. Myofibroblasts di dalam neovascular selaput menyebabkan selaput untuk mengontrak dan untuk menjadi apposed kepada trabecular meshwork ( synechiae di depan sekeliling). Outflow cairan mata dihalangi, dan intraocular tekanan menjadi meningkat (Vinay Kumar, 2005).
Obat agonis berikatan dengan reseptor dan mengaktifkannya dalam berbagai kondisi, yang secara langsung atau tidak langsung memberikan efek. Beberapa reseptor menyertakan efektor mekanik pada molekul yang sama, sehingga ikatan obat akan meberikan efek yang langsung. Misalnya, pembukaan kanal ion atau pengaktifan aktivitas enzim. Reseptor yang lain yang terikat melalui satu atau lebih campur tangan penggabungan molekul pada sebuah molekul efektor yang terpisah. Beberapa tipe sistem penggabungan obat-reseptor-efektor dibicarakan pada bagian dua dalam buku ini (Bertram G. Katzung, 2004).
Sebagai contoh adalah penghambat reseptor asetilkolin seperti atropin. Atropine adalah antagonis karena atropine mencegah akses asetilkolin dan mirip obat agonis dengan reseptor asetilkolin dan atropine menstabilkan reseptor dan membuatnya inaktif.
Agen ini akan mengurangi efek asetilkolin dan obat yang mirip di dalam tubuh. “Agonis” yang menghambat ikatan molekul dan agonis parsial beberapa obat adalah obat agonis yang mirip karena penghambatan ini bertanggung jawab untuk terminasi (pengakhiran) aksi pada agonis endogen (Bertram G. Katzung, 2004).
Sebagai contoh, penghambat asetilkolin esterase, karena perlambatan penghancuran asetilkolin endogen, menyebabkanefek kolinomimetik yang akan menyerupai aksi molekul agonis kolinoseptor selama penghambat kolinesterase tidak atau hanya kebetulan berikatan dengan kolinoseptor (lihat bagian 7, dalam buku ini). Obat lain berikatan dengan reseptor dan mengaktifkannya tetapi tidak menimbulkan respon yang besar seperti agonis penuh. Contoh, pindolol, adalah sebuah adrenoseptor (agonis parsial) atau sebagai antagonis (jika agonis penuh seperti isopreterenol ada) (Bertram G. Katzung, 2004)
Atropin menyebabkan blockade reversible pada aksi kolinomimetik pada reseptor muskarinik. Missal penghambatan oleh atropine dalam dosis kecil dapat dipengruhi oleh konsentrasi asetilkolin yang lebih besar atau agonis muskarinik yang ekuivalen. Eksperimen mutasi menyatakan bahwa sebuah asam amino yang spesifik diperlukan dalam reseptor untuk membentuk karakteristik ikatan atom nitrogen pada asetilkolin, karena asam amino ini juga dibutuhkan untuk berikatan dengan obat antimuskarinik. Ketika atropin berikatan dengan reseptor muskarinik, maka akan mencegahnya (Bertram G. Katzung, 2004).
Keefektivan obat antimuskarinik bervariasi dengan jaringan dan pencarian agonis. Jaringan yang paling sensitive dengan atropine adalah saliva, bronchial, dan sweat gland. Sekresi asam oleh sel gastric parietal adalah kurang sensitive. Pada kebanyakan jaringan agen penghambat antimuskarinik eksogen diatur agonis kolinoseptor lebih efektif dari pada pelepasan asetilkolin endogen (Bertram G. Katzung, 2004).
Atropine mempunyai selektif yang tinggi terhadap reseptor muskarinik. Potensinya pada reseptor nikotinik lebih rendah, dan aksinya pada reseptor nonmuskarinik umumnya tiadak dapat dideteksi secara klinik (Bertram G. Katzung, 2004).
Pilokarpin, alkaloida ini terdapat pada daun tanaman Amerika,
Pilocarpus jaborandi. Khasiatnya terutama berkhasiat muskarin, efek nikotinnya ringan sekali. SSP permulaan distimulasi, kemudian ditekan aktivitasnya. Penggunaan utamanya adalah sebagai miotikum pada glaucoma. Efek miotisnya ( dalam tetes mata ) dimulai sesudah 10-30 menit dan bertahan 4-8 jam ( Tan Hoan Tjay, 2002).
Toleransi dapat terjadi setelah digunakan untuk waktu lama yang dapat ditanggulangi dengan jalan menggunakan kolinergika lainnya untuk beberapa waktu, misalnya karbachol atau neostigmin ( Tan Hoan Tjay, 2002).
Dosis pilokarpin pada glaukoma 2 sampai 4 kali sehari 1 sampai 2 tetes larutan 1-2 % ( klorida, nitrat ) ( Tan Hoan Tjay, 2002).
Pilokarpin bekerja langsung terhadap organ-organ ujung dengan kerja utama yang mirip muskarin dari asetilkolin ( ACh ). Semuanya adalah zat-zat ammonium kwartener yang bersifat hidrofil dan sukar memasuki system saraf pusat ( Tan Hoan Tjay, 2002).
Menurut Dr. Ikke Sumantri, spesialis mata dari Jakarta Eye Center (JEC), glaukoma adalah penyakit yang merusak saraf mata yang terjadi akibat tekanan bola mata atau tekanan intra okulat yang tinggi (Sinar Harapan, 2003) Pada mata normal, saraf berfungsi meneruskan bayangan yang kita lihat ke otak. Di otak, bayangan tersebut akan bergabung di pusat penglihatan dan membentuk suatu sensasi penglihatan. ”Bila tekanan bola mata seseorang sudah di atas 21 mmHg, maka orang tersebut pantas dicurigai menderita glaukoma,” papar Ikke dalam sebuah seminar mengenai glaukoma di Jakarta, pekan silam. Tekanan pada bola mata ini dipicu oleh tersumbatnya akous humor, yakni cairan jernih yang terdapat di dalam bola mata bagian depan. Cairan ini dengan teratur mengalir dari tempat pembentukannya ke saluran keluarnya, seperti air keran (Sinar Harapan, 2003)
Apabila dapat diatasi dengan baik sebelum terjadi kerusakan retina dan saraf mata, biasanya ada harapan untuk pulih kembali. Namun yang terjadi, seringkali orang tidak menyadari kalau salah satu dari matanya kena glaukoma. Dari berbagai kasus yang ada, banyak pasien yang datang ke ahli medis setelah kedua bola matanya terkena glaucoma (Sinar Harapan, 2003)
Ikke menjelaskan, untuk melanjutkan prosedur pengobatan, seorang pasien terlebih dulu harus diperiksa apakah glaukomanya tergolong akut atau kronis. ”Pada kondisi akut, biasanya dalam tempo dua atau tiga jam bisa menyebabkan kebutaan, maka tindakan pengobatan harus dilakukan sesegera mungkin,” ungkapnya.Glaukoma akut menyerang kedua mata sekaligus. Penderita akan mengalami gejala mata merah, pandangan kabur, nyeri pada mata disertai sakit kepala, juga rasa mual dan muntah-muntah. Secara fisik kemampuan penglihatan mata akan menurun. Beberapa kasus akan mengalami kondisi yang mirip dengan katarak. Setelah diketahui bahwa pasien menderita glaukoma akut maka dokter bisa memeriksanya dengan gonioskopi, yakni semacam alat untuk mengetahui apakah sudut mata yang tertutup masih bisa terbuka atau tidak (Sinar Harapan ,2003) Sedangkan pada glaukoma kronis peningkatan tekanan di dalam mata terjadi dalam masa beberapa bulan atau tahun tanpa terjadi gejala apa-apa. Namun kalau tidak diobati, glaukoma kronis akhirnya mengakibatkan kebutaan total. Pada penderita glaukoma kronis tindakan serupa bisa juga dilakukan, tapi dengan waktu yang tidak terlalu mendesak sebab ancaman kebutaan tidak sebesar pada penderita glaukoma akut (Sinar Harapan, 2003)
Ahmed Valve Untuk mengatasi glaukoma yang memang kondisinya sudah mendesak, dokter akan memasang keran buatan yang populer disebut ahmed valve. Nama ini berasal dari nama penemunya, yakni Ahmed, warga Amerika Serikat (AS) asal Timur Tengah yang pertama kali menciptakan klep tersebut sekitar 10 tahun silam. Alat serupa keran ini terbuat dari bahan polymethyl methacrylate (PMMA), yakni bahan dasar lensa tanam. Ahmed valve ditanamkan pada bola mata dengan cara operasi. Bila tekanan bola mata berada pada 18 mmHg maka klep tersebut akan terbuka sehingga cairan yang tersumbat bisa mengalir ke bagian konjungtiva mata. Dengan mengalirnya cairan, tekanan bola mata otomatis akan turun. Sebaliknya, klep akan tertutup kembali bila tekanan sudah berada di bawah 18 mmHg (Sinar Harapan, 2003) Pada glaukoma kronis yang belum terlalu parah ahli medis bisa mengambil tindakan memberikan tetes mata untuk mengurangi produksi cairan atau untuk memperlancar pengeluaran cairan mata. Selanjutnya bisa juga dilakukan pemeriksaan bola mata dengan tonometer, memeriksa saraf mata, mengukur lapang pandangan. Sedangkan pada kondisi yang mendesak perlu dilakukan operasi laser (Sinar Harapan, 2003)
Pemeriksaan Jika seseorang dicurigai hipertensi, maka dilakukan beberapa pemeriksaan, yakni wawancara (anamnesa) adakah dalam keluarga yang menderita hipertensi. Dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan ECG, kalau perlu pemeriksaan khusus seperti USG, Echocardiography (USG jantung), CT Scan, dan sebagainya (Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro, 2002) Tujuan pengobatan hipertensi adalah mencegah komplikasi yang ditimbulkan. Karena itu, tensi senantiasa dikendalikan menjadi normal. Secara umum dianjurkan tensi di bawah 140/90, tetapi pada penderita penyakit ginjal karena diabetes, misalnya, sasaran adalah 125-130/75-80 (Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro, 2002). Pengobatan dimulai dengan hal-hal yang bersifat non-obat (non farmakologik), antara lain dengan mengurangi berat badan jika gemuk, menghentikan merokok, menghentikan konsumsi kopi dan alkohol yang berlebihan, lakukan olahraga teratur, ubah gaya hidup yang penuh stres, dan tentu saja menghentikan konsumsi obat-obatan yang menaikkan tensi. Untuk diet, kurangi garam dapur menjadi 5-6 gr/hari dan perbanyak unsur kalium (buah-buahan) (Dr. Nico2002) Obat-obat yang digunakan disesuaikan dengan kondisi pasien. Obat-obat utama yang digunakan adalah Diuretika, Beta Blocker, ACE (Angiotensin Converting Enzyme) Inhibitor, Angiotensin II Receptor Blocker, Calcium Antagonis. Obat-obat diberikan bertahap dari satu macam, mulai dengan dosis rendah sampai kombinasi juga dimulai dengan dosis rendah (Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro, 2002). Hipertensi mendapat julukan ”pembunuh siluman” karena pasien yang tidak sadar dirinya menderita hipertensi tahu-tahu memperoleh komplikasi berupa gangguan serius pada pembuluh darah koroner yang dapat mengakibatkan serangan jantung dengan akibat komplikasi itu terjadi karena hipertensi dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pembuluh darah arteri antara lain pengerasan dan penebalan arteri, deposit lemak pada dinding pembuluh darah atau pembesaran pembuluh darah. Kerusakan-kerusakan arteri ini dapat terjadi di mana-mana. Jika di otak terjadi stroke dan jika di jantung terjadi serangan jantung. Selain itu dapat terjadi penebalan otot jantung dan ini dapat berakhir sebagai payah jantung. Kalau kerusakan arteri pada mata dapat timbul gangguan penglihatan (Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro, 2002). Karena itu, Anda sebaiknya memeriksakan diri secara teratur, mengikuti petunjuk dokter tentang perubahan-perubahan gaya hidup dan hal-hal yang non-obat. Dan jika mendapat resep dianjurkan untuk minum obat secara teratur. Sebagian besar penderita hipertensi perlu minum obat seterusnya. Ada baiknya melakukan sendiri monitoring tensi dengan cara mengukur secara periodik. Untuk itu sebaiknya mempunyai alat sendiri seperti yang dipunyai teman Anda (Dr.Nico A.Lumenta,K.Nefro, 2002).
Obat Midriatikum
Obat midriatikum adalah obat yang digunakan untuk membesarkan pupil mata. Juga digunakan untuk siklopegia dengan melemahkan otot siliari sehingga memungkinkan mata untuk fokus pada obyek yang dekat. Obat midriatikum menggunakan tekanan pada efeknya dengan memblokade inervasi dari pupil spingter dan otot siliari (www.medicastore, 2006).
Obat untuk midriatikum bisa dari golongan obat simpatomimetik dan antimuskarinik, sedangkan obat untuk Siklopegia hanya obat dari golongan antimuskarinik. Obat midriatikum-siklopegia yang tersedia di pasaran adalah Atropine, Homatropine dan Tropicamide dengan potensi dan waktu kerja yang berbeda begitu juga kegunaan secara klinisnya (www.medicastore, 2006).
Atropin
Atropine, adalah alkaloid derivat solanasid dari Atropa belladonna yaitu suatu ester organik asam tropik dan tropin. Atropin merupakan antimuskarinik pertama yang digunakan sebagai obat, Atropin sangat potensial sebagai obat midriatikum-siklopegia dengan panjang waktu kerja lebih dari dua minggu (www.medicastore, 2006).
Homatropin
Homatropine adalah alkaloid semisintetik yang dibuat dari kombinasi asam mandelat dengan tropine. Durasi kerja Homatropin lebih pendek dibanding dengan Atropin (www.medicastore, 2006).
Tropikamid
Tropicamide, adalah derivat sintetik dari asam tropik, tersedia sebagai obat mata pada akhir tahun 1950-an. Tropikamid mempunyai waktu kerja dan lama kerja lebih pendek dibandingkan dengan antimuskarinik lainnya, sehingga mempunyai daya serapnya (difusi) terbesar dan proporsi obat yang tersedia untuk penetrasi ke kornea lebih tinggi (www.medicastore, 2006).
Obat Miotikum
Obat miotikum adalah obat yang menyebabkan miosis (konstriksi dari pupil mata). Pengobatan glaukoma bertujuan untuk mengurangi tekanan di dalam mata dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada penglihatan. Obat Miotikum bekerja dengan cara membuka sistem saluran di dalam mata, dimana sistem saluran tidak efektif karena kontraksi atau kejang pada otot di dalam mata yang dikenal dengan otot siliari.Betaxolol dan Pilokarpin adalah contoh obat Miotikum yang sering digunakan. Betaxolol adalah senyawa penghambat beta adregenik (www.medicastore, 2006).
Pilocarpine adalah alkaloid muskarinik yang diperoleh dari daun belukar tropis Amerika dari genus Pilocarpus. Pilokarpin bekerja sebagai reseptor agonis muskarinik pada sistem saraf parasimpatik. Pilocarpine digunakan untuk glaukoma untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat tekanan yang dapat berisiko kebutaan, Pilokarpin mengatasi gejalanya dengan menurunkan tekanan pada mata penderita glaucoma (www.medicastore, 2006).
Pilokarpin bekerja pada reseptor muskarinik (M3) yang terdapat pada otot spingter iris, yang menyebabkan otot berkontraksi dan menyebabkan pupil mata mengalami miosis. Pembukaan terhadap jala mata trabekular secara langsung meningkatkan tekanan pada cabang skleral. Aksi ini memfasilitasi pengeluaran cairan pada kelopak mata sehingga menurunkan tekanan intraokular (dalam mata) (www.medicastore, 2006).
Untuk pemilihan obat midriatikum dan miotikum yang tepat sesuai kebutuhan dan keluhan anda ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter. Di apotik online medicastore anda dapat mencari informasi obat midriatikum dan miotikum yang telah diresepkan dokter secara mudah dengan mengetikkan di search engine medicastore. Sehingga anda dapat memilih dan beli obat midriatikum dan miotikum yang telah diresepkan dokter (www.medicastore, 2006).


V. Metode Percobaan
5.1. Alat dan Bahan :
5.1.1. Alat :
- Timbangan elektrik
- Botol tetes
- Jangka sorong
- Stopwatch
- Lup (kaca pembesar)
- Flashlight (senter)
5.1.2. Bahan :
- Kelinci
- Pilokarpin 1%
- Atropin 1%

5.2 Prosedur Percobaan

- Diukur diameter mata normal kelinci kanan dan kiri serta refleknya terhadap cahaya dengan melewatkan cahaya dari flashlight pada masing-masing mata kelinci sebanyak tiga kali dengan selang waktu lima menit,
- Diberi tetes mata pilokarpin sebanyak dua tetes pada mata kanan dan kiri,
- Diamati diameter pupil kedua mata kelinci serta refleknya terhadap cahaya dengan cara melewatkan cahaya dari flashlight pada masing-masing mata kelinci setiap lima menit selama tiga puluh menit,
- Setelah tiga puluh menit diberi tetes mata mata atropin sebanyak dua tetes pada kedua mata
- Diamati diameter pupil kedua mata kelinci serta refleknya terhadap cahaya dengan cara melewatkan cahaya dari flashlight pada masing-masing mata kelinci setiap lima menit selama tiga puluh menit,
- Dibuat grafik diameter pupil versus waktu

5.3 Flow Sheet
1. Kelinci Kontrol

Kelinci

Diukur diameter mata normal kanan dan kiri
Diberi cahaya pada mata kanan dan kiri dan
diamati refleksnya
Diulangi perlakuan di atas sebanyak 3 kali
dengan selang waktu 5 menit
Diberi tetes mata pilokarpin sebanyak 2 tetes
pada kedua mata
Diukur diameter pupil kedua mata kelinci
serta refleks terhadap cahaya selama 60 menit selang waktu 5 menit
Hasil Dibuat grafik diameter pupil vs waktu














2. Kelinci dengan Pemberian Obat

Kelinci

Diukur diameter mata normal kanan dan kiri
Diberi cahaya pada mata kanan dan kiri dan
diamati refleksnya
Diulangi perlakuan di atas sebanyak 3 kali
dengan selang waktu 5 menit
Diberi tetes mata pilokarpin sebanyak 2 tetes
pada kedua mata
Diukur diameter pupil kedua mata kelinci
serta refleks terhadap cahaya selama 30 menit selang waktu 5 menit
Diberi tetes mata atropin sebanyak 2 tetes
pada kedua mata
Diukur diameter pupil kedua mata kelinci
serta refleks terhadap cahaya selama 30 menit selang waktu 5 menit
Hasil Dibuat grafik diameter pupil vs waktu


VI. Perhitungan, Data, Grafik dan Pembahasan
6.1. Perhitungan Dosis


6.2 Data Percobaan


6.2. Grafik Percobaan

6.3. Pembahasan
Pada percobaan, untuk dapat melihat antagonis obat, obat yang pertama diberikan pada mata kelinci adalah pilokarpin. Dalam suatu konsentrasi agonis tertentu, peningkatan konsentrasi antagonis kompetitif secara progresif menghambat respon dari agonis, sedangkan konsentrasi-konsentrasi antagonis yang tinggi akan mencegah respons secara keseluruhan. Sebaliknya konsentrasi agonis yang lebih tinggi, yang cukup, dapat mengatasi efek dari pemberian konsentrasi antagonis secara keseluruhan, yaitu Emax untuk agonis tetap sama pada setiap konsentrasi antagonis tertentu. Karena antagonisme bersifat kompetitif, keberadaan antagonis meningkatkan konsentrasi agonis yang dibutuhkan untuk pemberian suatu tingkatan respon tertentu, dan kemudian kurva konsentrasi-efek agonis bergeser ke kanan. Menurut Katzung beberapa antagonis reseptor mengikat reseptor dengan cara yang bersifat ireversibel, atau hampir ireversibel. Afinitas antagonis reseptor dapat demikian tinggi sehingga untuk tujuan praktis, resptor tersebut tidak dapat lagi berikatan dengan agonis. Antagonis lain dalam kelompok ini menghasilkan efek yang ireversibel karena setelah berikatan pada reseptor, antagonis tersebut membentuk ikatan-ikatan kovalen dengannya. Setelah kedudukan reseptor-reseptor pada proporsi yang besar oleh antagonis jenis ini, jumlah reseptor yang tidak diduduki bisa sedemikian rendah sehingga agonis dengan konsentrasi tinggi tidak dapat mengatai antagonisme yang ada, dan respons agonis yang maksimal tidak dapat dicapai.
Berdasarkan percobaan didapat hasil bahwa pemberian tetes mata pilokarpin sebanyak 2 tetes menghasilkan efek miosis, yaitu mengecilnya diameter pupil mata hewan percobaan (kelinci). Hal ini adalah sesuai dengan teori, karena kerja pilokarpin sebagai obat golongan agonis muskarinik (agonis kolinergik yang sifatnya menyerupai asetilkolin), yang dapat menurunkan kontraksi otot siliaris dan tekanan intraokuler bola mata. Sesuai dengan pendapat Tan Hoan Tjay (2002), obat golongan kolinergik seperti pilokarpin dapat menimbulkan penurunan kontraksi otot siliaris mata sehingga menimbulkan efek miosis dengan cepat, serta merangsang sekresi kelenjar yang terikat pada kelenjar keringat, mata dan saliva. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan pengaruh rute pemberian (tetes mata) dan dosis obat yang diberikan.
Selain itu, pada pemberian tetes mata atropin dengan jumlah yang sama pada kelinci, segera terjadi efek yang berlawanan dengan pilokarpin, yaitu terjadi efek midriasis (dilatasi pupil mata) sehingga diameter pupil mata kelinci yang mengecil kembali membesar. Sementara kelinci kontrol yang hanya diberi pilokarpin tanpa pemberian atropin, pupil matanya tetap mengalami miosis. Ini sesuai dengan pendapat Mary J. Mycek, dkk (1997) bahwa kerja atropin adalah menyekat semua aktivitas kolinergik mata.
Pada pengujian refleks cahaya mata kelinci, diperoleh hasil bahwa setelah pemberian pilokarpin, refleks mata kelinci terhadap cahaya menjadi lebih cepat daripada respon normal (kelinci berkedip dengan cepat), hal ini sesuai dengan teori bahwa pilokarpin menimbulkan miosis dan menyebabkan peningkatan kepekaan mata terhadap cahaya. (Kemungkinan peningkatan kepekaan disebabkan efek miosis, pengecilan diameter pupil menyebabkan pengurangan cahaya yang dapat melewati pupil untuk sampai ke retina, sehingga untuk mengkompensasi hal ini, mata meningkatkan kepekaannya terhadap cahaya).
Namun pada pengujian refleks cahaya setelah pemberian atropin, hasil yang diperoleh agak kurang sesuai dengan teori, dimana menurut Mycek, kerja atropin adalah menyekat semua aktivitas kolinergik mata dan seharusnya mata menjadi tidak bereaksi sama sekali terhadap cahaya (tidak ada kedipan mata). Namun dari percobaan diperoleh bahwa kelinci masih menunjukkan refleks terhadap cahaya, walaupun refleks menjadi lambat. Selama percobaan terlihat bahwa refleks mata kelinci makin melambat seiring waktu, dan kemudian sekitar menit ke-30, refleks mata kelinci sedikit menjadi lebih cepat, walaupun hal ini kurang terlihat dengan pengamatan visual saja, dan mungkin saja dipengaruhi oleh subjektivitas si pengamat. Kemungkinan ketidaksesuaian ini dipengaruhi oleh dosis atropin yang diberikan, dimana dosis yang diberikan sedikit kurang sehingga tidak semua reseptor pilokarpin terokupasi oleh atropin. Hal ini juga dapat disebabkan oleh cara pemberian yang kurang baik, sehingga mengakibatkan tidak semua obat mengenai bola mata.





VII. Kesimpulan dan Saran
7.1. Kesimpulan
- Pemberian pilokarpin secara tetes mata pada kelinci menghasilkan efek miosis (mengecilnya diameter pupil mata) yang dapat dilihat secara visual dan diukur dengan alat bantu jangka sorong, serta peningkatan refleks mata terhadap cahaya yang ditandai dengan kecepatan mata berkedip.
- Pemberian atropin secara tetes mata pada kelinci menghasilkan efek midriasis (membesarnya diameter pupil mata) yang dapat dilihat secara visual dan diukur dengan alat bantu jangka sorong, serta penurunan refleks mata terhadap cahaya, yang ditandai dengan perlambatan kedipan mata (walaupun secara teori harusnya tidak ada refleks cahaya).
- Atropin dan pilokarpin merupakan obat-obat yang memiliki efek antagonisme, dalam hal ini antagonis kompetitif. Mekanisme kerjanya ialah atropin merupakan antagonis yang bekerja pada organ yang sama (reseptor yang sama) dengan pilokarpin, yaitu reseptor muskarinik, dimana atropin bekerja dengan cara menginhibisi pilokarpin dari menduduki reseptor, yang dibantu oleh afinitas atropin-reseptor yang lebih kuat. Atropin menduduki reseptor tetapi tidak menimbulkan aktivitas intrinsik. Antagonis kompetitif memiliki sifat reversibel sehingga apabila dosis dari agonis dapat ditingkatkan, agonis tersebut dapat kembali menduduki reseptor.

7.1. Saran
- Sebaiknya pengukuran diameter pupil mata kelinci dan pengamatan refleks cahaya dilakukan oleh satu praktikan saja, untuk menghindari variasi pengamatan.
- Sebaiknya pemberian obat lebih memperhitungkan dosis dan faktor kesalahan pemberian
- Sebaiknya pengukuran dilakukan dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi, dengan mengusahakan jarak pengukuran yang hampir sama untuk setiap pengukuran, sehingga respon farmakologis lebih mudah diamati.
Daftar Pustaka

Brown, Michael, dkk, (2005), (Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach), Sixth Edition, McGraw-Hill Companies: United States of America, hal : 1.713 (e- book version of the text).
Katzung, Bertram G, (2004), Basic & clinical pharmacology, 9th Edition, Lange Medical Books/Mcgraw-Hill: New York, Hal : 6, 152 (e-book version of the text).
Kumar, Vinay, dkk, (2005), (Robbins and Cotran Pathologic Basis Of Disease), Seventh Edition, Elsevier Inc: USA, hal 1486 (e-book version of the text).
S.B, Zunilda, (1995), Pengantar Farmakologi dalam buku Farmakologi Dan Terapi, Edisi Keempat, Editor: S.G Ganiswara,Jakarta: Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia, halaman 18-19.
Tan, Hoan, Tjay., & Kirana R., (2002), Obat-Obat Penting, Edisi Kelima, Cetakan Kedua, Jakarta: Gramedia, halaman 47.
Anonim,www.medicastore, 2006
www.sinarharapan.co.id.htm
(Dr.NicoA.Lumenta,K.Nefro, www.sinarharapan.co.id.2002htm











































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kunjungi Juga